Altman bahkan mengajak audiens menoleh enam tahun ke belakang untuk membandingkan persepsi publik kala itu dengan kondisi saat ini.
Jika enam tahun lalu orang ditanya soal sistem yang mampu melakukan riset ilmiah mandiri, menulis program komputer kompleks, hingga beroperasi layaknya dokter, pengacara, atau ilmuwan, sebagian besar akan menganggapnya mustahil.
Baca Juga:
Mahasiswa Baru ITB Wajib Ikut Mata Kuliah AI: Mulai 2026
Kini, kemampuan yang dulu terdengar seperti fiksi ilmiah itu mulai menunjukkan bentuk nyatanya, dan Altman menilai percepatan tersebut menandakan AGI berada di ambang realisasi.
Bahkan ia memprediksi fase takeoff atau titik lepas landas perkembangan AI akan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan awalnya.
Bukan hanya AGI yang disinggung, Altman juga mengangkat potensi kemunculan Artificial Superintelligence (ASI), yakni level kecerdasan mesin yang melampaui gabungan kemampuan manusia paling jenius sekalipun di hampir seluruh bidang ilmu.
Baca Juga:
Fast Respon Indonesia Center Dipercaya Untuk Mendukung Dan Monitor Kinerja Polri
Jika AGI disejajarkan dengan kecerdasan manusia pada umumnya, maka ASI digambarkan sebagai entitas superintelijen yang berada di atas kapasitas kognitif manusia.
"Mengingat apa yang sekarang saya perkirakan sebagai fase takeoff yang lebih cepat, saya rasa superintelijen tidak terlalu jauh," tegasnya.
Prediksi tersebut menjadi sinyal serius bagi dunia, karena apabila mesin yang melampaui kecerdasan penciptanya benar-benar lahir dalam hitungan tahun ke depan, maka umat manusia akan menghadapi gelombang disrupsi terbesar sepanjang sejarah peradaban modern.