Jamieson menyebut dirinya belum menemukan catatan lain mengenai keberadaan hiu di Samudra Antarktika.
Ahli biologi konservasi dari Universitas Charles Darwin, Peter Kyne, yang tidak terlibat dalam penelitian itu, juga menyatakan hiu belum pernah tercatat sejauh itu ke selatan.
Baca Juga:
IKN Dikepung Banjir Awal 2026, Mentawir hingga Jalan Nasional Terendam
Menurut Kyne, perubahan iklim dan pemanasan lautan berpotensi mendorong hiu bergerak ke perairan yang lebih dingin di belahan selatan meski data distribusi spesies di sekitar Antarktika masih sangat terbatas karena wilayahnya terpencil.
"Ini luar biasa. Hiu berada di tempat yang tepat, kamera berada di tempat yang tepat, dan mereka mendapatkan rekaman yang luar biasa. Ini cukup signifikan," ucap Kyne.
Jamieson memperkirakan hiu sleeper yang bergerak lambat itu mungkin telah lama berada di wilayah tersebut tanpa terdeteksi dan populasinya di Samudra Antarktika kemungkinan jarang serta sulit diamati manusia.
Baca Juga:
Lautan Makin Panas, Ilmuwan Peringatkan Ancaman Badai Super Kategori 6
Ia menjelaskan hiu tersebut mempertahankan kedalaman sekitar 500 meter karena lapisan itu merupakan bagian terhangat dari struktur air yang terstratifikasi hingga kedalaman sekitar 1.000 meter akibat perbedaan suhu dan kepadatan air yang tidak mudah bercampur.
Jamieson menduga hiu-hiu di kawasan itu hidup di kedalaman serupa dengan memangsa bangkai paus, cumi-cumi raksasa, serta makhluk laut lain yang tenggelam ke dasar.
Minimnya kamera penelitian di kedalaman tersebut serta keterbatasan operasi yang umumnya hanya berlangsung pada musim panas belahan selatan antara Desember hingga Februari membuat pemantauan tidak berlangsung sepanjang tahun.