WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang panas maut yang memanggang Eropa bukan sekadar cuaca panas biasa, melainkan tanda bahwa krisis iklim, kota beton, udara lembab, dan tubuh manusia yang kelelahan sedang bertabrakan dalam satu bencana senyap.
Gelombang panas ekstrem kembali menghantam Eropa pada musim panas 2026 dan membuat suhu di sejumlah negara melonjak ke level berbahaya.
Baca Juga:
Prancis Dihantam Gelombang Panas Maut, Rumah Duka Penuh dan Korban Jiwa Terus Bertambah
Panas ini bukan hanya membuat warga kepanasan, tetapi juga mengganggu layanan kesehatan, sekolah, transportasi, pertanian, infrastruktur, hingga produktivitas kerja.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO menyebut gelombang panas akhir Juni 2026 di Eropa telah memecahkan banyak rekor suhu dan berdampak besar pada kesehatan manusia, ekosistem, pertanian, infrastruktur, serta tenaga kerja.
“Gelombang panas seperti ini adalah sesuatu yang kita perkirakan terjadi dalam iklim yang berubah,” ujar Kepala Informasi Iklim WMO John Kennedy.
Baca Juga:
Audit Rp1,567 Triliun Sah, Pembelaan Nadiem Makarim Soal Kerugian Negara Terpatahkan
Menurut Kennedy, Eropa secara keseluruhan telah menghangat sekitar dua derajat dalam 50 tahun sejak gelombang panas bersejarah pada 1976.
“Eropa adalah salah satu benua yang paling cepat menghangat, dan suhu ekstrem juga ikut meningkat,” katanya.
Kenaikan suhu itulah yang membuat gelombang panas hari ini jauh lebih berbahaya dibandingkan pola cuaca panas pada masa lalu.