Kemudian pengembangan radioisotop untuk diaplikasikan pada sektor medis dan industri. Ada juga pengembangan teknologi iradiasi dan pemanfaatannya di bidang pangan, medis, serta industri.
"Pengembangan SDM: Penguatan kerja sama pendidikan dan pengembangan kapasitas SDM di bidang teknologi nuklir. Upaya ini akan melibatkan koordinasi erat dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)," lanjut dia.
Baca Juga:
Sinkronisasi Riset Jadi Prioritas, Kemdiktisaintek dan BRIN Siapkan Sistem Terpadu
Arif mengatakan penjajakan teknologi ini berjalan progresif. Ia memberikan catatan tegas bahwa keberhasilan adopsi energi atom di Tanah Air tidak hanya bergantung pada kecanggihan infrastruktur semata.
"Penguasaan teknologi nuklir memang mutlak, namun pelibatan disiplin ilmu sosial sangat krusial. Pendekatan sosiologis ini vital untuk memetakan tingkat penerimaan publik, memitigasi dampak sosial-ekonomi, serta memastikan bahwa setiap tahap penjajakan energi nuklir di Indonesia berjalan secara transparan, aman, dan humanis," tegas Arif.
Diketahui, kemitraan teknis antara Indonesia dan Rusia sejatinya memiliki rekam jejak historis yang solid. Implementasi di tingkat teknis telah berjalan dengan sukses, mencakup kolaborasi antara BATAN dan Rosatom pada 2015, BAPETEN dan Rostechnadzor pada 2017, serta Poltek Nuklir (STTN) dan Rosatom Technical Academy pada 2020. "Sebagai wujud komitmen nyata, BRIN akan melanjutkan dan memperkuat kerja sama tersebut," pungkasnya.
Baca Juga:
Godzilla El Nino Intai Indonesia, BRIN Peringatkan Kemarau Ekstrem 2026
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.