WAHANANEWS.CO - Para ilmuwan mengungkap benua Afrika kini terbelah lebih cepat dari perkiraan sebelumnya dan proses pemisahan itu disebut sudah memasuki fase kritis yang tidak bisa dihentikan lagi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications menemukan kerak Bumi di pusat Retakan Turkana, kawasan yang membentang di Kenya dan Ethiopia, kini hanya setebal sekitar 13 kilometer.
Baca Juga:
Listrik Padam Bergilir di Bangkalan, PLN Sebut Ada Pemeliharaan Jaringan 20 KV
Ketebalan itu jauh lebih tipis dibandingkan bagian tepi retakan yang masih memiliki ketebalan lebih dari 35 kilometer.
"Kami menemukan bahwa retakan di zona ini lebih maju, dan keraknya lebih tipis, dari yang pernah disadari siapa pun," kata Christian Rowan dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, seperti dilansir Science Alert, Jumat (1/5/2026).
Para peneliti menjelaskan ketika kerak Bumi menipis hingga di bawah 15 kilometer, wilayah tersebut memasuki fase kritis yang disebut necking.
Baca Juga:
PLN Ingatkan Bahaya Listrik Ilegal, Korsleting Jadi Ancaman Serius di Permukiman Padat
Fase ini merupakan tahap sebelum benua benar-benar terpisah dan samudra baru mulai terbentuk.
"Semakin tipis keraknya, semakin lemah ia, dan itu justru mendorong retakan terus berlanjut," ujar Rowan.
Retakan Turkana disebut menjadi satu-satunya retakan aktif di Bumi yang saat ini berada dalam fase necking.