WahanaNews.co I Kordinator DPP LSM VOSY (Lembaga Swadaya
Masyarakat Voice Of Society) Aslan, mendesak Kepala Dinas Pendidikan Kab. Bogor
agar membuat kebijakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) pada semester I sebagian
dialihkan untuk memfasilitasi pembelian buku termasuk buku Lembar Kerja Siswa
(LKS).
Baca Juga:
Pemanfaatan AI di Sekolah Kini Diatur, Pemerintah Tekankan Kesiapan dan Usia Anak
Hal itu dikatakan Aslan mengingat LKS untuk pembelajaran anak
sekolah dari rumah melalui sistim pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online
sangat dibutuhkan.
Dari penelitian dan kajian yang dilakukan pihaknya, saat pandemi
sekarang, buku-buku pelajaran termasuk buku LKS sangat dibutuhkan anak-anak
sekolah membantu dan mendukung pembelajaran para guru menyampaikan materi
belajar dari sekolah secara online.
Baca Juga:
Nadiem Makarim Bantah Tuduhan Persekongkolan dan Penyalahgunaan Wewenang dalam Kasus Chromebook
Disisi lain, pandemi covid-19 yang menghantam sistim perokonomian
bangsa tidak dipungkiri sangat mempengaruhi keuangan masyarakat termasuk para orang
tua murid, sehingga beberapa orang tua murid yang terdampak pandemi Covid-19 terbebani.
"Beberapa orang tua yang kami temui, pada kondisi saat ini pembelian
sarana pendukung pembelajaran online untuk anak-anak mereka, seperti buku LKS dirasa berat, tetapi juga
dibutuhkan sebagai sarana pendukung pembelajaran," kata Aslan, Sabtu (30/1)
kepada WahanaNews.co.
Sementara dana BOS yang diperuntukkan untuk sarana
pembelanjaan pendidikan disekolah untuk proses belajar tatap muka sesuai Permendikbud
No. 19 Tahun 2020, sebesar 50% sasaran utamanya adalah untuk pembelanjaan
antisipasi Covid-19 di lingkungan sekolah, namun seperti diketahui bersama pembelajaran tatap muka disekolah sampai saat
ini ditiadakan sampai batas waktu yang
belum ditentukan.
"Dari penelitian dan kajian yang kami lakukan di Kab. Bogor,
anak anak sekolah sangat membutuhkan buku-buku pelajaran termasuk LKS. Walaupun
mereka belajar secara Online, tapi buku buku pendukung tetap harus ada
memudahkan para orang tua dan para murid itu sendiri. Termasuk LKS, itu juga
untuk membantu para guru mengetahui sejauh mana para murid memahami pelajaran
yang disampaikan secara online," kata Aslan.
"Ada baiknya pemerintah dapat meringankan beban orang tua
murid untuk membeli buku-buku pelajaran termasuk LKS, melalui dana BOS dimasa
pandemi sekarang," tambahnya Aslan.
Dia meminta Kepala Dinas Pendidikan Kab. Bogor, Entis
Sutisna, membuat kebijakan, agar kepala sekolah dapat mempergunakan dana BOS
membeli buku buku pelajaran termasuk LKS dan diserahkan kepada murid-murid.
Dijelaskan Aslan, salah seorang Ketua Komite Kepala Sekolah
(K3S) Kab. Bogor, juga mengatakan, dimasa pandemi sekarang, karena keterbatasan
sarana, baik yang dimiliki anak dan sekolah maka menggunakan pembelanjaran
daring menjadi kurang efektif, sehingga perlu juga ditambahkan media belajar
lain yang sistematis termasuk didalamnya buku paket dan LKS.
"Saya sudah mengajukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kab.
Bogor, ada baiknya pembelian buku buku termasuk LKS tidak dibebankan pada orang
tua, tapi bisa dibebankan dari dana BOS APBN dan APBD. Itu sangat dimungkimkan.
Karena biaya foto copy juga kadang jauh lebih mahal daripada membeli buku itu
sendiri," tambahnya.
Seorang orang tua siswa di SD Negeri Nyalindung Kec.
Cileungsi, Ari (38) mengatakan, berterima kasih bila pembelian LKS juga
ditangung pemerintah.
Sebab semenjak masa pandemi covid-19, dirinya sudah tidak
bekerja, untungnya ada pengusaha yang berbaik hati menanggung biaya pembelian buku
LKS untuk anaknya. (tum)