WAHANANEWS.CO, Jakarta - Semalam, Rabu, 4 Februari 2026, saya menulis catatan bernada puisi ringan berjudul “Mengapa Anak SD di NTT Bunuh Diri?” Hati terasa sedih setiap membaca dan mendengar kabar tentang meninggalnya seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang diduga bunuh diri.
Pemberitaan menyebutkan ia diduga tertekan karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena—biaya tak sampai Rp10.000—sebuah angka kecil yang berubah menjadi simbol tekanan ekonomi keluarga yang sangat miskin.
Baca Juga:
Kasus Pembakaran Anak 10 Tahun oleh 4 Temannya di Situbondo Diperiksa Polisi
Pihak kepolisian masih mendalami penyebab pastinya, termasuk kemungkinan faktor psikologis dan kondisi keluarga. Proses hukum berjalan, dan kita perlu menghormatinya. Namun, di luar itu, nurani publik sudah lebih dulu terusik.
Sungguh, saya enggan menulis soal ini. Dada terasa sesak setiap kali hendak mengurainya dalam tulisan tentang tragedi seorang anak sekolah dasar yang diduga mengakhiri hidupnya. Namun, selepas Subuh, pikiran ini terus bergerak, seolah menyeret tangan untuk tetap menulis.
Tragedi ini terasa begitu kontras di tengah gemerlap kota, kemewahan, dan keberlimpahan harta yang dimiliki sebagian orang di negeri ini. Kita mengenal istilah tajir, konglomerat, miliarder, sosialita, crazy rich. Jumlahnya tidak sedikit. Di sisi lain, Indonesia dikenal sebagai negeri yang sangat kaya sumber daya alam: nikel, emas, tembaga, timah, batu bara, minyak bumi, tanah subur, dan lautan luas. Letak geografis yang strategis dan iklim tropis adalah anugerah besar.
Baca Juga:
Bocah SD Jadi Penjudi, PPATK Ungkap Fakta Mengerikan Judi Online
Namun ironi itu nyata. Di tengah kekayaan alam, masih ada anak yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pendidikannya. Seruan agar pengelolaan sumber daya berpihak pada rakyat kecil bukan lagi wacana, melainkan jeritan yang berulang.
Kita memahami ada pemerintah yang menjalankan kebijakan publik, dan ada negara sebagai organisasi kekuasaan tertinggi yang berdaulat untuk mewujudkan ketertiban, kesejahteraan, dan keadilan. Kita juga tahu ada koruptor—mereka yang menyalahgunakan jabatan, merampas hak rakyat, dan menggerogoti keuangan negara. Meski ada aparat penegak hukum dan KPK, praktik itu tetap terjadi, seperti penyakit kronis yang sulit dicabut hingga ke akar.
Peristiwa meninggalnya anak kelas IV berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Ngada, semakin memilukan ketika ditemukan sepucuk surat untuk ibunya: pesan perpisahan, permintaan agar tidak menangis, serta gambar anak laki-laki dengan air mata. Ini bukan sekadar berita. Ini jeritan sunyi dari sudut negeri yang jauh dari sorotan.