WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernah merasa otak semakin “lemot”, sulit berkonsentrasi, gampang bosan, dan tidak bersemangat mengerjakan sesuatu setelah terlalu lama rebahan atau menatap layar ponsel?
Kondisi tersebut mungkin bukan sekadar rasa malas biasa.
Baca Juga:
Korban Gempa Venezuela Tembus 4.118 Jiwa, Kerugian Capai Rp668 Triliun
Dalam kajian psikologi dan neurosains, otak membutuhkan keterlibatan, tantangan, serta aktivitas bermakna agar fungsi perhatian dan kemampuan berpikir tetap terlatih.
Ketika seseorang terlalu lama menjalani rutinitas pasif, monoton, dan minim rangsangan, otak tidak langsung rusak atau menyusut.
Namun, kemampuan untuk mempertahankan fokus, mengendalikan perhatian, memecahkan masalah, dan menghadapi aktivitas yang membutuhkan usaha mental dapat menjadi kurang terasah.
Baca Juga:
KPK Sebut SK Bupati Sukoharjo Jadi Alat Pemerasan, Setoran Capai Rp2,93 Miliar
Kondisi inilah yang dalam percakapan sehari-hari sering disebut sebagai “otak malas”.
Bukan Otaknya Malas, tetapi Jarang Ditantang
Otak manusia memiliki kemampuan neuroplastisitas, yakni kemampuan jaringan saraf untuk menyesuaikan diri berdasarkan pengalaman dan aktivitas yang dilakukan.
Kemampuan yang sering digunakan dapat semakin terlatih, sedangkan kemampuan yang jarang digunakan bisa menjadi kurang efisien.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap penelitian mengenai stimulasi kognitif pada kelompok lanjut usia menemukan bahwa aktivitas stimulasi dapat membantu fungsi kognitif umum, memori, orientasi, bahasa, dan kemampuan berhitung.
Temuan tersebut tidak berarti seseorang akan langsung mengalami gangguan otak hanya karena bermalas-malasan selama beberapa hari.
Namun, dalam jangka panjang, minimnya aktivitas fisik, sosial, dan intelektual dapat membuat otak kehilangan kesempatan untuk terus beradaptasi dan membangun cadangan kognitif.
National Institute on Aging Amerika Serikat menyebut aktivitas fisik, menjaga kesehatan, tidur yang cukup, hubungan sosial, dan kegiatan yang melibatkan pikiran sebagai bagian dari langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan kognitif.
Mengapa Otak Mudah Bosan?
Kebosanan muncul ketika seseorang ingin terlibat dalam suatu aktivitas, tetapi tidak menemukan kegiatan yang dianggap cukup menarik, menantang, atau bermakna.
Profesor psikologi dari University of Waterloo, James Danckert, menjelaskan bahwa kebosanan bukanlah keadaan tanpa keinginan.
“Boredom is a state of wanting, not of apathy,” kata Danckert.
Menurutnya, orang yang bosan sebenarnya sedang mencari aktivitas yang dapat memuaskan kebutuhan untuk bertindak dan merasa efektif terhadap lingkungan sekitarnya.
Karena itu, kebosanan dapat berfungsi sebagai sinyal agar seseorang mengubah aktivitasnya.
Persoalannya muncul ketika sinyal tersebut selalu dijawab dengan kegiatan pasif dan instan, seperti berpindah-pindah aplikasi atau terus menggulir video pendek.
Scroll Video Justru Bisa Membuat Makin Bosan
Banyak orang membuka TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts untuk mengusir rasa bosan.
Namun, penelitian justru menemukan bahwa kebiasaan berpindah-pindah video dapat meningkatkan kebosanan.
Penelitian Katy Tam dan Michael Inzlicht yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology: General melibatkan tujuh eksperimen dengan lebih dari 1.200 peserta.
Hasilnya menunjukkan bahwa berpindah video atau mempercepat tayangan untuk menghindari kebosanan justru membuat peserta merasa semakin bosan, kurang puas, dan kurang terlibat dengan konten yang mereka tonton.
Bahkan ketika peserta bebas memilih video YouTube yang mereka sukai, kebiasaan berpindah tayangan tetap memperkuat rasa bosan.
“Orang mempercepat atau melewati video untuk menghindari kebosanan, tetapi perilaku itu justru dapat membuat mereka semakin bosan,” ujar Tam mengenai hasil penelitian tersebut.
Fenomena ini diduga terjadi karena otak tidak memperoleh waktu yang cukup untuk benar-benar tenggelam dan terlibat dalam sebuah aktivitas.
Akibatnya, otak terus mencari rangsangan baru tanpa pernah merasa benar-benar puas.
Inilah yang membuat seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar, tetapi setelahnya tetap merasa kosong, bosan, dan sulit memulai pekerjaan yang lebih berat.
Dampaknya Bisa Terlihat dari Kebiasaan Sehari-hari
Otak yang terbiasa menerima hiburan cepat dapat merasa lebih sulit menghadapi aktivitas yang hasilnya tidak langsung muncul.
Membaca buku, menyelesaikan laporan, belajar keterampilan baru, atau mendengarkan penjelasan panjang membutuhkan perhatian yang lebih stabil.
Seseorang akhirnya lebih mudah terdistraksi, ingin berpindah aktivitas, atau mencari ponsel ketika pekerjaan mulai terasa sedikit membosankan.
Kurangnya rangsangan berkualitas juga berbeda dengan beristirahat.
Istirahat tetap dibutuhkan untuk memulihkan energi, mengatur emosi, serta membantu proses pembentukan dan penyimpanan ingatan.
Masalahnya bukan terletak pada tidur, bersantai, atau melamun sesekali.
Masalah muncul ketika hampir seluruh waktu luang diisi dengan konsumsi pasif, tanpa kegiatan fisik, interaksi sosial, kreativitas, pembelajaran, atau tantangan baru.
Cara “Membangunkan” Otak yang Terlalu Nyaman
Menjaga otak tetap aktif tidak harus dilakukan dengan mengerjakan soal matematika sulit setiap hari.
Membaca topik baru, menulis, berdiskusi, belajar bahasa, memainkan alat musik, memasak resep baru, mengunjungi tempat berbeda, dan mempelajari keterampilan praktis dapat memberi tantangan yang dibutuhkan otak.
Aktivitas fisik juga penting karena kesehatan otak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tubuh.
Penelitian terhadap gaya hidup sehat menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik, kegiatan kognitif, pola makan sehat, dan fungsi kognitif yang lebih baik pada kelompok lanjut usia.
Interaksi sosial pun dapat melatih ingatan, bahasa, perhatian, pengendalian emosi, serta kemampuan memahami orang lain.
Tidak perlu menghentikan seluruh hiburan digital.
Yang dibutuhkan adalah mengurangi kebiasaan berpindah-pindah konten dan mulai melatih diri menyelesaikan satu aktivitas tanpa gangguan.
Cobalah membaca selama 20 menit tanpa membuka notifikasi, menonton satu video sampai selesai, berjalan kaki tanpa terus memeriksa ponsel, atau mempelajari satu keterampilan baru secara rutin.
Jadi, sebenarnya otak tidak benar-benar menjadi malas seperti manusia yang menolak bekerja.
Namun, otak dapat terbiasa dengan pola hidup yang minim tantangan, serba instan, dan dipenuhi rangsangan singkat.
Semakin sering otak dilatih untuk fokus, belajar, bergerak, berinteraksi, dan menyelesaikan tantangan, semakin besar pula kesempatan untuk mempertahankan ketajaman fungsi kognitif.
Sebaliknya, terlalu lama pasif dan terus-menerus mengejar hiburan instan dapat membuat seseorang semakin mudah bosan dan semakin sulit bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan perhatian.
Jadi, ketika otak mulai terasa lemot, solusi terbaik mungkin bukan mencari video berikutnya.
Otak bisa jadi sedang meminta sesuatu yang lebih bermakna.
[Redaktur: Elsya TA]