WahanaNews.co, Jakarta - Politisi asal Bali, Arya Wedakarna atau yang dikenal dengan AWK, telah diberhentikan dari jabatannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia.
Pemecatan tersebut dilakukan lantaran pernyataan Arya dianggap merendahkan jilbab beberapa waktu yang lalu.
Baca Juga:
Rayakan Nyepi dengan Pantun: Ucapan Spesial untuk Sahabat Hindu
Ketua DPD RI, AA Lanyalla Mahmud Mattalitti, mengkonfirmasi pemberhentian Arya Wedakarna.
Mattalitti menyatakan bahwa Arya terbukti melanggar etika, dan berdasarkan itu, Badan Kehormatan (BK) DPD RI memutuskan untuk mencabut keanggotaan Arya.
"Kejadian ini telah terang, melanggar etika. Itu sudah kita serahkan kepada BK. Hasil dari BK, saya belum tahu. Tapi, dari yang saya baca di media, memang telah dilakukan pemecatan," ungkap La Nyalla saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (2/2/2024).
Baca Juga:
Libur Lebaran di Pulau Dewata? Kunjungi 5 Destinasi Wisata Ini!
Meskipun begitu, La Nyalla menyatakan bahwa dia tidak mengetahui kapan BK DPD RI secara resmi mencabut keanggotaan Arya. Namun, dia menegaskan bahwa hasil sidang etika BK DPD RI telah diparipurnakan.
"Saya juga enggak tahu, yang pasti yang putuskan BK, kemudian disahkan di paripurna. Tetapi BK sudah bisa dipecat," tuturnya.
"Sah (pemecatan Arya) sudah di paripurna hari ini. Sah sah," ucap La Nyalla.
La Nyalla berkata, Arya memang salah satu senator yang kerap terjerat kasus.
"Berapa kali ya, 4 kali ya (tersandung kasus). Sudah diampuni-diampuni, nah ini menyangkut umat agama," kata La Nyalla
Lebih lanjut, La Nyalla berkata, pihaknya akan menyerahkan hasil rapat paripurna yang menyatakan pemecatan Arya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Kalau presiden setuju baru ada pengganti bawahnya. Ini kan keputusan presiden, kita ga tahu. Bisa jadi, AWK menuntut juga ke PTUN, kita enggak tahu kan hasilnya bagaimana," terang La Nyalla, melansir Sindonews.
Diketahui dari video yang beredar, Arya Wedakarna dipecat oleh Badan Kehormatan (BK) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI pada Jumat (2/2/2024).
Dia diberhentikan berdasarkan pasal 48 ayat 1 dan 2 Peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2021 Badan Kehormatan DPD RI.
Surat keputusan pemberhentian Arya Wedakarna dibacakan oleh Wakil Ketua BK DPD RI, Made Mangku Pastika.
"Telah memutuskan dan menetapkan bahwa teradu Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa, Anggota DPD RI dari Provinsi Bali terbukti melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik dan atau tata tertib DPD RI sebagaimana diatur dalam Undang-undang MD3 dengan sanksi berat pemberhentian tetap sebagai anggota DPD RI," kata Mangku Pastika.
Sebelumnya, pernyataan senator Bali, Arya Wedakarna telah memicu kemarahan media sosial X atau twitter. Hal itu lantaran Arya Wedakarna diduga menyinggung hijab atau jilbab yang dikenakan wanita muslim.
Dalam rekaman video yang diunggah oleh akun X @avrax75, tampak potongan video Arya Wedakarna tengah memberikan teguran kepada Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Bali Nusa Tenggara dan Kepala Bea Cukai Bandara I Gusti Ngurah Rai, serta pengelola bandara, dalam sebuah pertemuan bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.
Dalam video tersebut, Arya Wedakarna menyampaikan keinginannya agar pegawai asli Bali ditempatkan di posisi pelayanan utama bagi wisatawan, dibandingkan dengan pegawai yang menggunakan jilbab, hal ini menciptakan kontroversi.
"Saya gak mau yang front line, front line itu, saya mau yang gadis Bali kayak kamu, rambutnya kelihatan terbuka. Jangan kasih yang penutup, penutup gak jelas, this is not Middle East. Enak aja Bali, pakai bunga kek, pake apa kek," ucap Arya dikutip Senin (1/1/2024).
Sontak saja, pernyataan Arya Wedakarna itu pun langsung mengundang kecaman warganet. Hampir semua warganet mengecam ucapan Arya yang seolah merendahkan hijab yang dipakai pegawai beragama Islam.
"Moga banyak orang yang melek dan orang semacam itu gak perlu punya jabatan, Rasis," tulis @kertaspinus.
"Ini contoh rasialis dan radikal sebenernya.. mengedepankan hanya golongannya, ini bukan modern ini terbelakang yg sebenernya," tulis @ZakiYetha.
"Terserah elo deh, Pak. Tp kalo gadis Balinya muslim & dia mau pake hijab elo gak bs ngelarang atau ngatur2. Heran kok orang picik spt elo bs jd anggota DPD sih? Kalo ngomong gini di acara kantor berani ga elo, Pak?" tulis @Kyacelsi.
Pada sisi lain, Anwar Abbas, seorang pengamat dalam bidang sosial ekonomi dan keagamaan, menyampaikan keprihatinan terhadap pernyataan Arya Wedakarna, seorang senator asal Bali, terkait isu busana muslimah.
Menurutnya, ucapan Arya dianggap merendahkan agama Islam karena melibatkan aspek SARA dan bertentangan dengan Pasal 29 Ayat 1 dan 2 dalam UUD 1945.
"Pernyataan Arya Wedakarna anggota DPD RI dari daerah pemilihan Bali yang telah melecehkan agama Islam terkait dengan kata-katanya menyangkut masalah busana muslimah yang disampaikannya dengan cara-cara yang tidak baik sangat disesalkan," kata Anwar dalam keterangannya, beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan bahwa Arya harus mengetahui, memakai hijab itu dalam pandangan islam, bukanlah pakaian orang Timur Tengah. Akan tetapi Itu adalah bagian dari ibadah bagi setiap wanita yang menyatakan dirinya muslimah.
"Saudara Arya bisa melihat di manapun di atas dunia ini yang namanya wanita Islam itu kalau dia melaksanakan perintah agamanya dengan baik maka dia akan memakai hijab," tegasnya.
Oleh karena itu, sebagai seorang pejabat negara, Arya diharapkan memahami hal ini agar dapat bersikap dengan lebih bijaksana dan arif. Perlu disadari bahwa Bali merupakan bagian integral dari Indonesia.
Menurutnya, bila terjadi keributan dan kegaduhan di Bali, hal ini dapat menyulitkan rakyat setempat karena potensi kunjungan wisatawan akan menurun drastis.
Ia menekankan bahwa Arya seharusnya belajar dari pengalaman pandemi Covid-19 di mana Bali mengalami sepi karena turis lokal maupun internasional tidak datang, sehingga ekonomi masyarakat Bali mengalami penurunan yang signifikan.
Selain itu, ia berharap agar kehidupan di Bali dapat berjalan dengan baik, aman, tentram, dan damai.
"Jangan sampai gara-gara orang seorang yang bernama Arya Wedakarna, rakyat Bali menjadi susah dibuatnya, karena bagi kita bangsa Indonesia kebahagiaan orang Bali adalah kebahagiaan kita semua dan begitu pula sebaliknya," sebutnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]