WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nasionalisme disebut harus tetap menjadi fondasi utama dalam praktik bernegara di tengah tekanan global dan dinamika politik dalam negeri yang kian kompleks.
Cucu Soekarno, Didi Mahardhika Soekarno, menegaskan bahwa wacana nasionalisme kini kembali menemukan relevansinya di tengah berbagai tantangan bangsa, Selasa (08/04/2026).
Baca Juga:
Sidang Perdana Korupsi PGN Digelar, Hendi Prio Santoso Hadapi Dakwaan
"Tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya soal ekonomi atau geopolitik, melainkan juga arah demokrasi yang mulai dipraktikkan secara keliru oleh sebagian pihak," kata Didi.
Ia menyoroti adanya kecenderungan demokrasi tidak lagi difungsikan sebagai mekanisme koreksi yang sehat, melainkan digunakan sebagai alat untuk mendelegitimasi pemerintahan.
"Demokrasi seharusnya mengoreksi, bukan meruntuhkan legitimasi negara," menjadi garis pemikiran yang didorongnya dalam membaca kondisi saat ini.
Baca Juga:
Bareskrim Ungkap Kronologi Penangkapan Andre Fernando di Penang
Didi menjelaskan bahwa kritik terhadap pemerintah sejatinya merupakan bagian penting dari sistem demokrasi, namun harus tetap diarahkan untuk memperbaiki, bukan merusak kepercayaan publik.
"Kritik terhadap pemerintah adalah bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun ketika kritik tersebut tidak lagi bertujuan memperbaiki, melainkan melemahkan kepercayaan publik secara sistematis, maka yang terjadi adalah distorsi demokrasi," ujarnya.
Ia menilai praktik delegitimasi tersebut berpotensi membahayakan persatuan nasional, terutama dalam situasi global yang penuh ketidakpastian dan tekanan geopolitik.
Menurutnya, polarisasi yang muncul akibat praktik tersebut dapat menggerus kohesi sosial sekaligus melemahkan posisi Indonesia di tingkat internasional.
Sebagai putra Rachmawati Soekarnoputri, Didi menegaskan bahwa demokrasi Indonesia harus tetap berakar pada nilai gotong royong, musyawarah, serta kepentingan nasional.
Ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh bergeser menjadi alat yang justru menciptakan instabilitas di dalam negeri.
Dalam pandangannya, Indonesia saat ini membutuhkan stabilitas politik yang diperkuat oleh kritik konstruktif, bukan serangan yang meruntuhkan legitimasi negara.
"Nasionalisme tidak hanya soal melawan pengaruh luar, tetapi juga menjaga kohesi di dalam negeri," tegasnya.
Sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, ia menyatakan komitmennya untuk terus mendorong narasi kebangsaan yang menyejukkan sekaligus tegas dalam menghadapi dinamika politik.
Didi juga mengingatkan bahwa perjuangan menjaga Indonesia tidak berhenti pada momentum kemerdekaan, melainkan harus terus berlanjut dalam menjaga arah demokrasi agar tetap memperkuat bangsa.
"Nasionalisme dan demokrasi sejatinya harus berjalan seiring serta saling menguatkan demi keutuhan dan masa depan Indonesia," ujarnya.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]