WAHANANEWS.CO, Jakarta - Introvert sering disalahartikan sebagai pemalu, padahal para ahli psikologi menyebut keduanya memiliki karakteristik dan dampak emosional yang berbeda dalam kehidupan sosial seseorang.
Penulis buku “Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking”, Susan Cain, menjelaskan bahwa introvert bukanlah bentuk ketakutan terhadap interaksi sosial, melainkan preferensi terhadap suasana yang lebih tenang dan minim stimulasi.
Baca Juga:
Gangguan Kelistrikan di Sumatera, ALPERKLINAS Sebut PLN Responsif dan Terbuka ke Publik
“Shyness is the fear of negative judgment, and introversion is a preference for quiet,” tulis Susan Cain dalam kajiannya mengenai introversi dan perilaku sosial modern.
Individu introvert umumnya memperoleh energi melalui waktu menyendiri atau aktivitas reflektif seperti membaca, menulis, meditasi, hingga menikmati suasana tenang setelah menjalani interaksi sosial yang intens.
Sementara itu, sifat pemalu lebih berkaitan dengan rasa takut, cemas, atau kekhawatiran terhadap penilaian sosial sehingga seseorang merasa tidak nyaman ketika harus menjadi pusat perhatian atau berada dalam lingkungan sosial tertentu.
Baca Juga:
Psikologi Bongkar 7 Tanda Halus Orang Ber-IQ Rendah, Nomor 5 Paling Sering Terlihat
Fenomena salah memahami introvert sebagai pribadi anti sosial dinilai semakin kuat di era media sosial ketika masyarakat cenderung menganggap individu yang aktif, ekspresif, dan ramai sebagai standar ideal dalam kehidupan modern.
“Diam bukan berarti tidak percaya diri, dan aktif bukan berarti bebas dari kecemasan sosial,” demikian pandangan yang kini banyak digaungkan dalam edukasi kesehatan mental modern.
Susan Cain dalam penelitiannya juga menyebut budaya modern cenderung memuja karakter ekstrovert sehingga banyak individu introvert merasa harus memaksakan diri tampil lebih terbuka demi diterima lingkungan sosial dan dunia kerja.