WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terus menggenjot promosi ajang Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) Ke-12 Tahun 2026 ke seluruh dunia dengan memanfaatkan jaringan 132 perwakilan Indonesia di berbagai negara.
Selasa (31/3/2026) -- Upaya ini ditegaskan sebagai langkah strategis untuk memastikan pameran perjalanan wisata tersebut dikenal luas oleh komunitas global sekaligus menarik minat pelaku industri pariwisata internasional.
Baca Juga:
Amsal Sitepu Disidang, Ekraf Ingatkan Bahaya Kriminalisasi Karya Kreatif
“Sejak awal sudah dipromosikan mengenai event ini ke seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri,” kata Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu, Heru Hartanto Subolo.
Ia menjelaskan bahwa sektor pariwisata memiliki posisi penting dalam kerangka diplomasi Indonesia, karena mampu membangun citra positif sekaligus memperkuat kepercayaan dunia terhadap Indonesia.
Dalam tahap awal, perwakilan Indonesia di 132 negara disebut berperan aktif menjembatani penyelenggaraan BBTF 2026 dengan pemerintah setempat, termasuk kementerian, lembaga, hingga asosiasi terkait.
Baca Juga:
Kasus CSR BI-OJK Memanas, KPK Segera Tahan Satori dan Heri Gunawan
Hasil konkret mulai terlihat dari partisipasi sejumlah perwakilan RI yang telah mendaftarkan total 27 buyer dari berbagai negara untuk hadir pada penyelenggaraan BBTF pada Mei mendatang.
“Kami memiliki 132 perwakilan Indonesia di berbagai negara, dan sejak awal sudah mempromosikan mengenai event ini,” ujarnya.
Adapun buyer tersebut berasal dari berbagai perwakilan, di antaranya KBRI Yangon dengan empat buyer, KBRI Karachi tiga buyer, KJRI Ho Chi Minh City delapan buyer, KBRI Wina satu buyer, KBRI Manila satu buyer, serta KBRI Nairobi yang menyumbang 10 buyer.
Kemlu juga menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jangkauan promosi agar lebih banyak buyer potensial dari berbagai negara tertarik untuk berpartisipasi dalam BBTF 2026.
“Ke depan kami akan terus dorong agar pembaharuan informasi mengenai BBTF ini dapat terus digelorakan,” kata Heru.
Selain promosi, Kemlu memastikan kesiapan dalam menghadapi potensi krisis, termasuk bencana maupun isu keamanan yang dapat muncul selama penyelenggaraan acara berlangsung.
Peran ini dinilai penting di tengah derasnya arus informasi global yang berpotensi memunculkan disinformasi atau isu negatif terhadap Indonesia.
“Kemlu juga memastikan hadir sebagai manajemen krisis,” ujarnya.
Tidak hanya itu, pemerintah juga berupaya mempermudah akses kedatangan para buyer melalui penguatan konektivitas internasional, khususnya transportasi udara menuju Indonesia.
Langkah ini diharapkan dapat menghilangkan hambatan bagi buyer potensial sekaligus meningkatkan partisipasi dalam ajang BBTF 2026.
“Kami akan memastikan bahwa penguatan kerja sama internasional, khususnya untuk mencegah hambatan bagi buyer potensial, sehingga mereka memiliki akses yang baik untuk masuk ke Indonesia,” kata Heru.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]