WahanaNews.co | Penangkapan Briptu Hasbudi (HS) atas kepemilikan pertambangan emas dan beberapa bisnis ilegal lainnya menghebohkan masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara).
Bukan tanpa alasan, pasalnya sosok pria 29 tahun yang ditangkap oleh jajaran Ditkrimsus Polda Kaltara itu sangat tersohor di Kaltara.
Baca Juga:
Dugaan Penjualan Solar Subsidi dengan Jumlah Besar di SPBU Sergai: Truk Diduga Milik Oknum Polisi
Polisi bintara yang berdinas di Polairud Polres Tarakan dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses dan memimpin sejumlah organisasi di bidang kemasyarakatan hingga olahraga.
Briptu Hasbudi saat ini tercatat menduduki jabatan Ketua Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan (IPSS) Kaltara dan Ketua Beladiri Kempo Indonesia (BKI) Kaltara.
Penangkapan Briptu Hasbudi belakangan viral dan jadi buah bibir warganet.
Baca Juga:
Terlilit Utang, 2 Oknum Polisi di Sumbar Nekat Rampok Uang Pengisian ATM
Dalam kolom komentar, netizen yang mengenal sosok Briptu Hasbudi tidak sedikit menjulukinya sebagai carzy rich asal Kota Tarakan.
Namun, siapa sangka, di balik kekayaan yang dimiliki Briptu Hasbudi sebagai pengusaha muda yang sukses, ternyata hasil dari menjalankan bisnis ilegal.
Tidak hanya memiliki tambang emas ilegal di Kecamatan Sekatak, Bulungan, Briptu Hasbudi juga menjalankan bisnis menyelundupkan pakaian bekas dan daging asal luar negeri.
Dari hasil penyelidikan kepolisian, Briptu Hasbudi melakukan itu dengan cara menyamarkan manifest barang yang akan dikirimkan.
Briptu Hasbudi ditangkap petugas ketika diduga akan melarikan diri melalui penerbangan Lion Air tujuan Makassar, Sulawesi Selatan.
Di balik keberhasilan penangkapan Briptu Hasbudi, ada sosok AKBP Hendy Febrianto Kurniawan yang turun langsung memimpin operasi tersebut.
Perwira polisi menengah itu belakangan ikut tersorot dan jadi buah bibir masyarakat Kaltara.
Hal tersebut lantaran aksinya yang turut hadir menangkap dan menggelandang Briptu Hasbudi dari Bandara Juwata Tarakan pada Rabu (4/5/2022) sore.
Lalu, siapa sebenarnya AKBP Hendy?
Informasi yang dihimpun media, AKBP Hendy merupakan lulusan dari Akpol 2000 yang berbakat serta memiliki pengalaman di bidang reserse.
AKBP Hendy sebelum menjabat Dirkrimsus di Polda Kaltara, merupakan mantan Wakil Direskrimsus Polda Metro Jaya yang kerap mengungkap kasus-kasus kakap.
AKBP Hendy juga pernah menduduki jabatan Wadireskrimsus Polda Banten.
Kemudian dia juga pernah menjabat Kapolres Karawang dan Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Salah satu kasus besar yang ditangani AKBP Hendy adalah kasus mutilasi perempuan berinisial SA, warga Pati, Jawa Tengah.
Dia berhasil mengungkap penyebab kematian korban, yang ternyata dibunuh lalu dimutilasi dan dibakar oleh suaminya sendiri dengan motif karena sakit hati.
Perwira dengan dua melati di pundaknya itu juga dikenal dengan gebrakannya menembak mati para pelaku kejahatan jalanan.
Sejak saat itu, AKBP Hendy sangat dikenal melalui jargon tembak mati atau tembak kaki.
Kisah itu bermula ketika Hendy pertama kali bertugas menjabat Kapolres Karawang.
Hendy menjanjikan hadiah kepada anggotanya uang Rp 5 juta.
Syaratnya berhasil menembak kaki penjahat.
Kemudian hadiah Rp 10 juta bagi anggota polisi yang bisa menembak mati penjahat sadis.
Total, ada 16 kali dia menembak mati pelaku kejahatan karena melawan petugas.
Selain itu, di awal kariernya Hendy juga pernah menjabat sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
AKBP Hendy yang belum genap dua minggu menduduki jabatan Dirkrimsus Polda Kaltara, berhasil mengungkap kasus bisnis ilegal yang dijalankan Briptu Hasbudi.
Berikut perjalanan karier AKBP Hendy Febrianto Kurniawan:
- Penyidik Muda Tidak Tetap KPK (2008-2012)
- Kasubdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya (2016)
- Kapolres Karawang (2017)
- Kanit Subdit I/Indag Dittipideksus Bareskrim Polri (2018)
- Wadireskrimsus Polda Banten (2021)
- Wadireskrimsus Polda Metro Jaya (2021-2022)
- Direskrimsus Polda Kaltara (2022-Sekarang). [gun]