WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tembakan pecah saat roda pesawat baru menyentuh tanah, dan dua pilot tewas seketika di landasan terpencil Papua Selatan.
Organisasi bersenjata TPNPB-OPM menyampaikan alasan penembakan terhadap pilot dan kopilot maskapai Smart Air di Lapangan Terbang Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan.
Baca Juga:
Dinas Pendidikan Provinsi Papua Larang Penggunaan HP di Sekolah
Juru bicara markas pusat TPNPB, Sebby Sambom, menjelaskan kawasan Korowai merupakan wilayah operasi milisi dari Komando Daerah Pertahanan Kodap XVI/Yahukimo yang dipimpin oleh Elkius Kobak bersama Kopitua Heluka sebagai komandan operasi.
"Kami konkret saja, sejak lama TPNPB keluarkan peringatan agar orang Indonesia tinggalkan wilayah Papua, terutama di zona konflik," kata Sebby, melansir Tempo, Selasa (17/2/2026).
Menurut Sebby, wilayah Boven Digoel yang masuk area operasi Kodap XVI/Yahukimo telah ditetapkan sebagai zona konflik sehingga berbagai insiden baku tembak disebut sebagai konsekuensi yang dianggap biasa.
Baca Juga:
Pemuda Muhammadiyah Dorong Penambahan Maskapai Penerbangan, Perkuat Konektivitas Provinsi Papua Barat Daya
Selain itu, ia menuding pesawat Smart Air kerap digunakan untuk mengangkut prajurit dan logistik TNI-Polri yang bertugas di Papua sehingga menjadi sasaran penembakan.
"Kami ada catatan jika Smart Air selalu bawa TNI-Polri, jadi tidak salah kami membela diri untuk menyelamatkan hidup orang asli Papua," ujar Sebby.
Kepala Penerangan Komando Daerah Militer Kodam XVII/Cenderawasih Letnan Kolonel Try Poerwanto membantah klaim TPNPB terkait penggunaan pesawat sipil untuk angkutan militer maupun penetapan zona konflik.
Menurut Try, narasi yang disampaikan kelompok bersenjata itu merupakan propaganda untuk menutupi tindakan kekerasan terhadap warga sipil dan penerbangan sipil di Papua.
"Kami punya pesawat dan helikopter sendiri dan tidak menggunakan pesawat sipil, jadi publik jangan percaya pernyataan mereka," ujar Try.
Kepala Satgas Hubungan Masyarakat Operasi Damai Cartenz Komisaris Besar Yusuf Sutejo menyatakan pesawat yang ditembak saat mendarat tersebut membawa 13 penumpang.
Pesawat tipe A/C C208B Ex itu diterbangkan oleh Kapten Egon Erawan bersama Kopilot Kapten Bas Koro dari Bandar Udara Tanah Merah pada Rabu (11/2/2026) pukul 10.35 WIT dan mendarat di Korowai sekitar pukul 11.00 WIT bertepatan dengan terjadinya penembakan.
Akibat insiden tersebut, pilot dan kopilot dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak, sementara 13 penumpang yang terdiri atas 12 orang dewasa dan satu balita selamat.
"Pelaku penembakan adalah milisi TPNPB Yahukimo yang dikenal dengan sebutan Batalyon Kanibal dan Semut Merah," kata Yusuf.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]