WAHANANEWS.CO, Jakarta - Zakaria Marpaung tak pernah membayangkan kepulangan anaknya dari Papua justru datang dalam peti mati, bukan dalam pelukan keluarga yang menunggu dengan doa dan harap.
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, prajurit TNI yang bertugas menjaga perbatasan Indonesia–Papua Nugini, diduga tewas bukan karena kontak senjata dengan musuh, melainkan akibat penganiayaan oleh seniornya sendiri saat bertugas.
Baca Juga:
Judi Online Berujung Pembunuhan, Ustaz Asal Tangerang Jadi Tersangka
Kabar duka itu pertama kali diterima Zakaria dari sepupu korban, yang menyampaikan bahwa Pratu Farkhan sebelumnya dikabarkan sakit dan sempat menghangatkan tubuh di dekat perapian.
“Dapat informasi dari sepupunya kami, anak kami ini sakit lalu menghangatkan badan di dekat perapian, kemudian datang seniornya berpangkat sersan menanyakan kondisi dan dibantunya untuk mengusulkan,” ujar Zakaria Marpaung, Jumat (2/1/2026).
Menurut penuturan keluarga, situasi berubah ketika seorang senior lain berpangkat kopral datang dan diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap Pratu Farkhan.
Baca Juga:
Pelat Dinas RI 25 Potong Antrean, Publik Pertanyakan Keteladanan
Pratu Farkhan disebut dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat oleh seniornya tersebut.
“Setelah dia tunduk tobat lalu dia ditendang, dia melawan, aku bangga dengan anakku ini, dia berani melawan membela nyawanya di depan seniornya berpangkat kopral,” kata Zakaria dengan suara bergetar.
Sebagai orang tua, Zakaria tak bisa menyembunyikan kekecewaan dan amarahnya terhadap dugaan tindakan tersebut.