WahanaNews.co, Jakarta - Pernyataan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), soal “mati syahid” yang disampaikan di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menuai sorotan publik.
Video ceramah tersebut viral di media sosial hingga berujung pada laporan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama, yang dilayangkan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Pemuda Katolik.
Baca Juga:
Usai Dipolisikan GAMKI, JK Bantah Menista Ajaran Kristen
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum SMA HKBP Dolok Sanggul Se-Indonesia, Arnod Sihite, menyampaikan bahwa situasi ini perlu disikapi secara bijak dengan mengedepankan kerukunan dan kejernihan berpikir.
Arnod menegaskan tidak setuju jika persoalan ini dibawa ke ranah hukum dengan mempolisikan JK, karena dinilai bukan solusi yang tepat. Menurutnya, langkah yang lebih bijak adalah mengedepankan klarifikasi serta dialog terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas, sekaligus tetap menjaga kerukunan antarumat beragama.
“Beliau adalah tokoh nasional, karena itu, setiap pernyataan tentu akan menjadi perhatian publik dan perlu disikapi dengan kehati-hatian agar tidak menimbulkan beragam tafsir,” ujar Arnod, Selasa (14/4/2026) di Jakarta.
Baca Juga:
Jusuf Kalla Sebut Kasus Ijazah Berlarut-larut, Ini Respons Pihak Jokowi
“Kita harus menghindari hal-hal yang merugikan diri kita sendiri dan fokus membantu pemerintah dalam memperkuat ekonomi melalui program-program yang sedang berjalan, agar kita bisa keluar dari krisis akibat tekanan global dan situasi politik Indonesia saat ini. Mari kita bersatu untuk membangun Indonesia yang lebih maju,” sambungnya.
Disisi lain, Arnod menegaskan bahwa ajaran Kristen mengedepankan kasih, sebagaimana diajarkan Yesus Kristus, sehingga penting untuk menjaga pemahaman yang tepat agar tidak terjadi kesalahpahaman antarumat beragama.
“Saya harap hal-hal seperti ini tidak masuk ke ranah politik, karena akan berpotensi menimbulkan persoalan baru,” tegas Arnod.
Salah satu pernyataan JK yang disorot adalah: "Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti."
Setelah Dilaporkan, JK Klarifikasi
Sejalan dengan Arnod, Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Victor Tinambunan, juga mengingatkan pentingnya menjaga kejernihan berpikir, kebijaksanaan, dan semangat persatuan dalam menyikapi dinamika yang berkembang.
Ia menilai, apabila terdapat pernyataan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran agama, maka pelurusan sangat diperlukan, termasuk melalui klarifikasi.
Selain itu, langkah bijak seperti penyampaian klarifikasi atau permohonan maaf dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga harmoni.
Ephorus HKBP juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi, serta terus menjaga kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa.
Setelah dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Jusuf Kalla melalui juru bicaranya, Husain Abdullah, memberikan klarifikasi atas polemik ceramah tersebut. Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikan JK bukanlah pendapat pribadi.
Menurut Husain, JK hanya menggambarkan realitas sosial yang terjadi saat konflik di Poso dan Ambon berlangsung.“Jadi apa yang disampaikan Pak JK bukan pendapat pribadi tetapi realitas sosial saat itu yang berkembang di antara mereka yang saling berkonflik,” kata Husain, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam ceramahnya JK menyampaikan pengalaman dan pembelajaran (lesson learned) saat berupaya mendamaikan konflik tersebut, termasuk pendekatan untuk mengubah cara pandang pihak-pihak yang bertikai.
“Pak JK menyampaikan lesson learned, mengisahkan pendekatan yang ia lakukan ketika hendak mendamaikan pihak yang bertikai di Poso maupun di Ambon, dengan terlebih dahulu mengubah paradigma yang memotivasi mereka saat berkonflik,” ujarnya.
[Redaktur: Amanda Zubehor]