WAHANANEWS.CO, Jakarta - Munculnya nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa capres-cawapres Pilpres 2029 memantik dinamika baru, namun peluangnya dipasangkan dengan Presiden Prabowo Subianto dinilai tipis.
Pengamat politik Ray Rangkuti menilai peluang duet Sjafrie Sjamsoeddin dengan Prabowo Subianto tergolong kecil karena keduanya sama-sama berlatar belakang purnawirawan TNI.
Baca Juga:
Survei IPI Buka Bursa Capres 2029, Sjafrie dan Dedi Mulyadi Masuk Radar
"Masuknya Pak Sjafrie ke bursa capres 2029 itu sebenarnya agak sulit ya dipasangkan dengan Pak Prabowo. Rasanya enggak mungkin ada dua orang TNI dipasangkan bersama-sama," kata Ray saat dihubungi wartawan, Rabu (18/02/2026).
Menurutnya, kesamaan latar belakang militer berpotensi menimbulkan resistensi, baik di kalangan elite politik maupun di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa jika Sjafrie tetap masuk dalam kontestasi sebagai calon wakil presiden dan dipasangkan dengan Prabowo, komposisi tersebut dinilai kurang ideal karena basis dan segmentasi pemilih yang cenderung sama.
Baca Juga:
Wacana Pilpres 2029 Muncul, Dasco Sebut Prabowo Belum Ambil Sikap
"Kalau dia tidak dengan Pak Prabowo, itu sepertinya kayak perlombaan di bursa yang sebenarnya sama," ucapnya.
Ray juga menyinggung kemungkinan dinamika subjektif di kalangan elite dengan munculnya nama baru yang bisa dipandang sebagai peluang strategis sekaligus ancaman politik.
"Bisa saja Pak Prabowo melihat ini peluang, atau sebaliknya melihat ini semacam ancaman," tambahnya.
Di sisi lain, ia menilai semakin banyaknya nama yang masuk bursa capres 2029 justru menguntungkan publik karena membuka lebih banyak alternatif pilihan politik.
Sejumlah nama yang disebut menonjol dalam bursa capres 2029 antara lain Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Puan Maharani, serta Agus Harimurti Yudhoyono.
Namun demikian, menurut Ray, tantangan terbesar dalam kontestasi mendatang justru terletak pada penentuan figur calon wakil presiden.
"Kesulitan kita itu adalah wapresnya siapa?" tegasnya.
Sementara itu, hasil survei terbaru dari Indonesian Public Institute menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029, termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, beberapa gubernur, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Peneliti IPI Abdan Sakura menjelaskan bahwa kemunculan nama-nama baru tersebut dipengaruhi sejumlah faktor seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, serta visi-misi dan program kerja.
Ia mencontohkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie, yakni kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.
"Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral," ujarnya.
Menurutnya, celah tersebut membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya pemain utama dalam kontestasi.
Ia juga menambahkan bahwa rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menandakan popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]