"Mereka yang berkuasa mengira warga negara adalah kecoa dan parasit," kata Abhijeet Dipke.
"Mereka harus tahu bahwa kecoa berkembang biak di tempat yang busuk dan seperti itulah kondisi India saat ini," lanjut Dipke.
Baca Juga:
Cinta Terlarang Berujung Maut, Istri Rancang Pembunuhan Suami di India
Mantan birokrat federal India, Ashish Joshi, menjadi salah satu tokoh yang langsung mendaftarkan diri karena merasa negara telah dilingkupi rasa takut yang luar biasa selama satu dekade terakhir untuk bersuara. Ini akibat tindakan keras pemerintah terhadap para pengkritik.
Joshi menilai bahwa di tengah atmosfer politik India yang penuh kebencian saat ini, kehadiran partai kecoa satir ini terasa seperti angin segar. Partai itu, tambahnya, memberi ruang kebebasan baru bagi masyarakat.
"Dalam dekade terakhir, ada banyak ketakutan di negara ini dan orang-orang takut untuk berbicara," tutur Ashish Joshi.
Baca Juga:
Karena Terima Terlalu Banyak Orang Muslim, Kampus di India Ditutup
"Kecoa adalah serangga yang tangguh, mereka bertahan hidup dan tampaknya mereka bisa membentuk sebuah partai lalu merayap di atas sistem Anda," tegas Joshi.
Kondisi sosiopolitik India sendiri memang sedang membara. Di mana angka pengangguran di tingkat lulusan sarjana menyentuh angka tragis 29,1% atau sembilan kali lipat lebih tinggi dibanding warga yang tidak bersekolah.
Sementara itu, pengacara terkemuka MA India, Prashant Bhushan, menilai bahwa komentar merendahkan dari sang hakim agung mencerminkan prasangka mendalam serta antipati dari otoritas hukum dan pemerintah saat ini terhadap gerakan anak muda.