Pada abad ke-12 hingga ke-14, kain selubung tersebut diperkenalkan sebagai penutup aurat dan disebut sebagai kebaya. Nama kebaya sendiri berasal dari bahasa Arab 'habaya' atau 'kaba' yang berarti pakaian.
"Kebaya berasal dari lingkungan priyayi [bangsawan] kerajaan, wanita terhormat, dia lahir dari lingkungan adiluhung dan dari budaya pemikiran Islam yang tertutup bajunya," jelas Dosen Program Studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (IPI) Suciati, dalam sebuah wawancara bersama CNNIndonesia.com.
Baca Juga:
Es Dunia Mencair Super Cepat, Kota-Kota Pesisir Terancam Tenggelam
Sejak saat itu, busana kebaya terus bermunculan di seluruh Nusantara dan menjadi salah satu produk budaya kebanggan perempuan.
Tak Hanya Dimiliki Indonesia
Kebaya atau busana yang memiliki kesamaan dengannya tak cuma ada di Indonesia. Beberapa negara lain, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura juga punya 'kebaya' sebagai bentuk produk budaya yang dilestarikan.
Baca Juga:
Gubernur Sulbar Suhardi Duka Terima Audiensi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 18
Suciati menilai, keberadaan busana serupa kebaya di negara-negara Asia berhubungan dengan perkembangan masyarakat dan perdagangan yang terjadi di masa lalu.
Diyakini, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunnan, China. Karena terdesak, orang Yunnan melarikan diri ke selatan, ke arah Asia.
Perdagangan yang marak kala itu juga menimbulkan kesamaan budaya di beberapa negara Asia. Kain, yang berasal dari Nusantara, dibawa oleh para pedagang dan tersebar ke sejumlah wilayah.