WAHANANEWS.CO, Jakarta - Baru membuka mata, tangan langsung meraih ponsel, dan tanpa sadar hari dimulai dari notifikasi, bukan dari diri sendiri, Senin (27/4/2026).
Di era digital, ponsel telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, bahkan bagi sebagian orang berfungsi sebagai “alarm” utama untuk memulai hari.
Baca Juga:
Banjir Landa Merangin dan Sarolangun, Korem 042/Gapu Bergerak Cepat Bantu Warga Terdampak
Namun, kebiasaan sederhana seperti langsung memeriksa layar setelah bangun tidur ternyata menyimpan dimensi psikologis yang tidak bisa dianggap remeh.
Dijelaskan dalam berbagai kajian psikologi perilaku, kebiasaan ini bukan hanya rutinitas, melainkan cerminan kondisi mental, pola pikir, hingga gaya hidup seseorang.
“Perilaku ini bisa menunjukkan adanya ketergantungan terhadap teknologi yang cukup tinggi,” demikian temuan dalam kajian tersebut.
Baca Juga:
Ini 8 Tipe Teman yang Diam-diam Bisa Merusak Kesehatan Mental
Orang yang langsung mengecek ponsel biasanya memiliki keterikatan kuat dengan perangkat digital, menjadikannya bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sumber hiburan, informasi, bahkan pelarian.
Fenomena ini dikenal sebagai digital dependency, yakni kondisi ketika seseorang merasa tidak lengkap tanpa akses ke perangkat digitalnya.
Selain itu, kebiasaan ini juga kerap dikaitkan dengan kecemasan yang muncul sejak awal hari.
“Dorongan untuk segera mengetahui notifikasi atau pesan mencerminkan anticipatory anxiety,” lanjut kajian tersebut.
Kecenderungan ini menunjukkan adanya rasa ingin memastikan kondisi secepat mungkin, seolah ada kekhawatiran terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi.
Kebiasaan ini juga memengaruhi cara seseorang menjalani hari karena sejak awal sudah dipenuhi respons terhadap dunia luar.
“Ini mencerminkan pola pikir reaktif, bukan proaktif,” disebutkan dalam analisis tersebut.
Alih-alih mengendalikan arah hari, individu justru membiarkan notifikasi, pesan, dan informasi eksternal menentukan fokusnya sejak pagi.
Dalam konteks psikologi, kondisi ini juga berkaitan dengan kesulitan dalam menetapkan batasan antara ruang pribadi dan tuntutan sosial.
Orang yang langsung membuka ponsel sering kali tidak memiliki jeda antara waktu pribadi dengan dunia luar, bahkan di momen paling awal saat bangun tidur.
“Hal ini menunjukkan lemahnya boundaries dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap kajian tersebut.
Lebih jauh, jika aktivitas pertama adalah membuka media sosial, maka ada indikasi kebutuhan akan validasi dari lingkungan sekitar.
Dorongan untuk melihat respons seperti likes, komentar, atau pesan menjadi bagian dari kebutuhan akan pengakuan sosial yang dapat memengaruhi rasa percaya diri.
Di sisi lain, paparan informasi digital sejak awal pagi juga berisiko menimbulkan overstimulasi pada otak.
“Kondisi ini membuat otak langsung aktif secara berlebihan tanpa proses adaptasi alami,” jelasnya.
Akibatnya, kelelahan mental dapat muncul lebih cepat sepanjang hari karena otak tidak diberi ruang untuk bangun secara bertahap.
Kebiasaan ini juga sering berkaitan dengan tidak adanya rutinitas pagi yang sehat dan terstruktur.
Alih-alih memulai hari dengan aktivitas reflektif seperti olahraga ringan atau meditasi, hari justru berjalan secara otomatis tanpa kesadaran penuh.
“Kurangnya rutinitas pagi yang sehat membuat seseorang kehilangan kendali atas awal harinya,” demikian kesimpulan dari analisis tersebut.
Pada akhirnya, kebiasaan kecil seperti memeriksa ponsel saat bangun tidur dapat menjadi cermin kondisi psikologis yang lebih luas.
Menggantinya dengan aktivitas yang lebih mindful seperti menarik napas, bersyukur, atau merencanakan hari dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup.
Cara seseorang memulai pagi, pada akhirnya, sangat menentukan bagaimana ia menjalani keseluruhan hari.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]