Jika
menemukan perhiasan, Pak Kentir biasanya langsung menjualnya. Bahkan, ia pernah
menemukan emas seberat dua gram.
Selain
emas dan barang rongsok, seperti besi, seng, atau botol plastik minuman, tak jarang
ia juga menemukan mayat manusia.
Baca Juga:
Bendung Katulampa Naik Status, Pemprov DKI Buka Jalur Air untuk Kurangi Debit Ciliwung
"Kalau
mayat sih sering. Namanya kali, kali gede,"
tambah Pak Kentir.
Meski
begitu, hal tersebut tak membuatnya takut. Walaupun tak jarang kakinya harus terluka karena terkena pecahan
benda tajam, seperti seng, beling atau paku.
Pak
Kentir mengaku tak mampu bila harus mengais rejeki di jalan karena kemampuan
penglihatannya yang sudah terbatas.
Baca Juga:
Normalisasi Sungai Ciliwung Ditargetkan Menteri PU Selesai Pada 2026
Selain
itu, risiko untuk terkena beling dan paku bila mengumpulkan barang bekas dan
sampah di kampung-kampung lebih besar dibandingkan di sungai.
"Namanya
di kali, Mas. Nyarinya di lumpur. Terus kadang-kadang kena beling, seng, kena
paku," ujar Pak Kentir.