"Yang
penting saya ga melanggar hukum. Apalagi waktu itu anak-anak masih kecil-kecil
semua. Yang satu kelas dua SD, satu TK, satu masih orok. Coba?" ujar Pak
Kentir.
Periode
tahun 1987-2004 adalah tahun-tahun kerja keras bagi Pak Kentir. Setiap subuh ia
sudah keluar dari peraduannya untuk mencari barang-barang rongsok.
Baca Juga:
Bendung Katulampa Naik Status, Pemprov DKI Buka Jalur Air untuk Kurangi Debit Ciliwung
"Tahun
1987-2004 nyarinya mati-matian. Berangkat subuh, pulang dini hari. Abis itu
timbang, abis makan, tidur. Ga dapat duit pulang," tambah Pak Kentir.
Penghasilan
Pak Kentir tak tentu setiap harinya. Paling banyak Pak Kentir mendapatkan Rp
70.000.
Setiap
hari, uang sebesar Rp 20.000 harus ia sisihkan untuk membayar ongkos bajaj dari
Manggarai Selatan ke Cawang.
Baca Juga:
Normalisasi Sungai Ciliwung Ditargetkan Menteri PU Selesai Pada 2026
Di usia
senjanya, Pak Kentir akan terus semangat mencari nafkah.
Sebagai
seorang bapak, ia akan berusaha mandiri. Meskipun anak-anaknya sudah berkarir
sukses.
Pak
Kentir mengaku dua anaknya bekerja sebagai pegawai negeri dan satu lagi bekerja
di dealer kendaraan.