Kerja Keras dan Hidup Sebatang Kara di Ibu Kota
Sembari
duduk di samping gerobaknya yang terparkir di pinggir Jalan Manggarai Selatan,
Pak Kentir bercerita bahwa dirinya telah merantau ke Jakarta sejak 1967.
Baca Juga:
Bendung Katulampa Naik Status, Pemprov DKI Buka Jalur Air untuk Kurangi Debit Ciliwung
Awalnya,
ia tinggal di desa Gudo, Jombang, Jawa Timur.
"Waktu
itu ke sini (Jakarta) tahun 1967 abis G 30 S, takut sendiri. Masalahnya saya
waktu itu kan (aktif) kesenian, itu dibilangnya PKI. Dulu ikut sempet ikut
kesenian ludruk, di Jombang kan khasnya Ludruk," kata Pak Kentir.
Tahun
1987 pun menjadi tahun yang monumental bagi Pak Kentir. Istrinya meninggal
dunia. Sementara itu, anak bontotnya masih bayi.
Baca Juga:
Normalisasi Sungai Ciliwung Ditargetkan Menteri PU Selesai Pada 2026
"Saya
waktu itu lagi stres, mikirin anak, bini ga ada. Gini (cari sampah di sungai)
ngikut temen," kata Pak Kentir.
Awalnya, ia
mencari barang-barang rongsok di Jakarta sejak tahun 1987. Pak Kentir diajak
teman-temannya untuk mencari barang-barang rongsokan dan sampah.
Pekerjaan
yang jauh dari idaman para remaja ibu kota itu Pak Kentir jalani dengan penuh
semangat.