Para ilmuwan dan sejarawan memiliki sejumlah teori yang mencoba menjelaskan mengapa babi akhirnya kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat Jazirah Arab.
Salah satu teori paling terkenal datang dari antropolog Marvin Harris melalui bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir yang menghubungkan fenomena tersebut dengan kondisi lingkungan dan ekologi Timur Tengah.
Baca Juga:
Pelita Air Bakal Masuk Garuda Group, MARTABAT Prabowo-Gibran: Konsolidasi Harus Tingkatkan Pelayanan
Menurut Harris, babi merupakan hewan yang membutuhkan sumber daya jauh lebih besar dibandingkan beberapa jenis ternak lainnya.
Seekor babi disebut dapat membutuhkan sekitar 6.000 liter air untuk berkembang biak sehingga kebutuhan air akan meningkat sangat besar apabila dipelihara dalam jumlah banyak.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius mengingat sebagian besar wilayah Timur Tengah didominasi kawasan gurun yang memiliki ketersediaan air terbatas.
Baca Juga:
KAI Kecam Ucapan Kasar Advokat ke Wartawan, Kak Mia: Officium Nobile Wajib Jaga Etika
"Babi mungkin enak, tetapi memberi makan binatang itu dan menjaganya tetap sejuk akan terlalu banyak menyita sumber daya," ungkap Marvin Harris.
Selain kebutuhan air yang tinggi, Harris juga menyoroti pola makan babi yang dianggap kurang cocok dengan kondisi wilayah tersebut.
Babi tidak dapat mengonsumsi rumput seperti kambing atau domba sehingga membutuhkan makanan berupa kacang-kacangan, buah-buahan, dan gandum yang juga menjadi kebutuhan manusia.