Dalam situasi sumber daya terbatas, masyarakat lebih memilih mengalokasikan bahan pangan tersebut untuk kebutuhan keluarga dibandingkan digunakan sebagai pakan ternak.
Atas dasar itulah Harris menilai faktor ekologi menjadi salah satu alasan utama mengapa pemeliharaan dan konsumsi babi perlahan ditinggalkan.
Baca Juga:
Jangan Terlewat, Seleksi Anggota Badan Supervisi OJK Dibuka Sampai 12 Juni 2026
Pandangan berbeda kemudian dikemukakan oleh sejarawan Richard W. Redding dalam penelitian berjudul The Pig and the Chicken in the Middle East yang dipublikasikan pada 2015.
Richard mengakui bahwa kebutuhan air babi memang cukup besar, namun menurutnya faktor tersebut bukan satu-satunya penyebab menurunnya konsumsi babi di Timur Tengah.
Ia menjelaskan bahwa gaya hidup nomaden yang dijalani sebagian masyarakat Arab membuat pemeliharaan babi menjadi kurang praktis.
Baca Juga:
WhatsApp Siapkan Fitur Baru, Pesan Penipuan Bakal Langsung Kena Peringatan
Ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain, babi dianggap kurang mampu beradaptasi dibandingkan hewan ternak lain yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras.
Menurut Richard, faktor yang lebih menentukan justru adalah kemunculan ayam sebagai sumber protein yang lebih efisien bagi rumah tangga masyarakat Arab.
Ayam dinilai lebih mudah dipelihara, membutuhkan sumber daya lebih sedikit, dan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu.