WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernah merasa perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat dibanding saat berangkat meski jarak dan waktunya sama, fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan, melainkan ilusi psikologis yang nyata dan telah diteliti para ilmuwan.
Pengalaman serupa bahkan pernah dirasakan astronot Alan Bean dalam misi Apollo 12 pada 1969 ketika ia mengaku perjalanan kembali ke Bumi terasa lebih singkat dibanding saat menuju Bulan.
Baca Juga:
Ford Tinggalkan Medan Perang, Dukungan AS ke Israel Dipertanyakan
Fenomena ini dikenal sebagai efek perjalanan pulang yang telah diamati dalam berbagai penelitian psikologi.
Sejumlah ilmuwan mencoba menjelaskan penyebabnya, salah satunya karena rute perjalanan pulang dianggap lebih familiar dibanding saat berangkat.
Namun penjelasan tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh psikolog dari Universitas Tilburg, Belanda, Niels van de Ven.
Baca Juga:
Iran Hantam Fasilitas Gas Terbesar Dunia di Qatar, Dampaknya Bisa Bertahun-tahun
“Ketika saya naik pesawat terbang, saya juga merasakan hal ini, padahal saya tidak mengenali apa pun dalam perjalanan itu,” kata van de Ven.
Berdasarkan pengalamannya, ia meragukan bahwa keakraban rute menjadi faktor utama yang membuat perjalanan pulang terasa lebih cepat.
Untuk membuktikannya, ia melakukan serangkaian eksperimen guna menguji fenomena tersebut secara ilmiah.
Salah satu eksperimen dilakukan dengan melibatkan sekelompok pesepeda yang menuju sebuah pekan raya melalui rute tertentu.
Setelah itu, para peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk perjalanan pulang dengan kondisi rute yang berbeda namun memiliki jarak yang sama.
Jika teori keakraban rute benar, maka hanya kelompok yang melewati jalur yang sama yang seharusnya merasakan perjalanan pulang lebih singkat.
Namun hasil penelitian menunjukkan kedua kelompok sama-sama merasa perjalanan pulang lebih cepat dibanding saat berangkat.
Van de Ven kemudian menyimpulkan bahwa faktor utama bukan pada rute, melainkan pada ekspektasi sebelum perjalanan dimulai.
“Sering kali kita melihat orang-orang terlalu optimistis ketika mereka mulai bepergian,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ekspektasi yang terlalu tinggi membuat perjalanan pergi terasa lebih lama dari yang dibayangkan.
“Jadi ketika mereka menyelesaikan perjalanan pergi, mereka merasa perjalanan itu memakan waktu lebih lama dari yang mereka perkirakan.”
Sebaliknya, saat perjalanan pulang seseorang cenderung tidak memiliki ekspektasi tertentu sehingga waktu terasa berjalan lebih cepat.
“Ini semua tentang ekspektasi Anda, apa yang Anda pikirkan saat tiba,” kata Michael Roy, psikolog dari Elizabethtown College.
Meski demikian, Roy menegaskan bahwa ekspektasi bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi fenomena ini.
“Kami tidak mengatakan ini satu-satunya penyebab, kemungkinan besar ada penyebab lain juga,” katanya.
Salah satu teori lain datang dari psikolog Montana State University, Richard A Block, yang menyoroti faktor tekanan psikologis.
Menurutnya, perjalanan menuju suatu tujuan biasanya disertai tekanan untuk tiba tepat waktu.
“Ketika Anda memiliki tujuan, Anda ingin tiba tepat waktu,” tulis Block.
Namun saat perjalanan pulang, tekanan tersebut cenderung berkurang sehingga seseorang menjadi lebih santai.
“Ketika Anda pulang, hal itu tidak terlalu penting,” lanjutnya.
Kondisi yang lebih santai ini membuat perhatian tidak terlalu fokus pada waktu sehingga perjalanan terasa lebih cepat.
Sebaliknya, ketika seseorang sangat memperhatikan waktu, perjalanan justru terasa lebih lambat.
Fenomena ini juga kerap dialami dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat seseorang pergi ke kantor di pagi hari yang terasa lama karena dikejar waktu, tetapi perjalanan pulang di sore hari terasa lebih singkat meski rutenya sama.
Contoh lain terjadi saat liburan, ketika perjalanan menuju destinasi wisata terasa panjang dan melelahkan, namun perjalanan pulang ke rumah sering terasa lebih cepat meskipun durasinya sama.
Ada pula pengalaman penonton konser yang merasa perjalanan menuju lokasi sangat lama karena antusiasme tinggi, tetapi saat pulang waktu terasa berlalu begitu cepat.
Efek perjalanan pulang pada dasarnya hanyalah ilusi psikologis yang dipengaruhi ekspektasi dan kondisi mental seseorang.
Namun menurut van de Ven, ilusi ini justru memberikan dampak positif secara emosional.
“Pada akhirnya, efek pulang ini memberi Anda perasaan positif begitu Anda tiba di rumah, jadi saya tidak yakin apakah Anda ingin efek itu hilang,” ujarnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]