“Saya dan penumpang lainnya lihat moncong pesawat rusak setelah mendarat. Ya kami kaget, syok lah, bang. Untung selamat,” ujar Rizki saat dihubungi.
Ia menuturkan selama berada di udara tidak terdengar suara benturan keras, meskipun pesawat sempat mengalami turbulensi ringan menjelang proses pendaratan.
Baca Juga:
Pesawat Garuda dan Citilink Tak Bisa Terbang karena Telat Maintenance, Disorot Danantara
“Sebelum landing ada awan hitam. Pesawat sempat turbulensi, tapi tidak kuat. Tapi tidak ada dengar suara benturan. Pas keluar dari pintu pesawat, kami kaget melihat moncongnya rusak cukup parah,” katanya.
General Manager Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Achmad, membenarkan adanya kerusakan pada pesawat Garuda Indonesia tersebut.
Ia menjelaskan kerusakan terjadi pada bagian radome atau hidung pesawat sisi kiri yang terlihat rusak cukup signifikan setelah dilakukan inspeksi visual.
Baca Juga:
Usai Insiden Salah Tangkap, Garuda Indonesia Temui Ketua NasDem Sumut untuk Sampaikan Permohonan Maaf
“Kerusakan pada radome sisi kiri pesawat. Setelah mendarat, inspeksi visual oleh teknisi dan kru pesawat menunjukkan bahwa radome mengalami kerusakan cukup berat,” kata Achmad.
Saat ini penyebab pasti kerusakan tersebut masih dalam proses investigasi oleh pihak terkait.
Pesawat yang seharusnya kembali terbang menuju Jakarta akhirnya tidak dioperasikan karena kerusakan pada bagian radome tersebut.