Selain sebagai karya seni, film ini juga menjadi bentuk pelestarian bahasa serta perlawanan budaya di tengah ancaman genosida yang terus menghantui komunitas Rohingya.
Produksi film berskala internasional ini melibatkan kerja sama antara Jepang, Prancis, Malaysia, dan Jerman.
Baca Juga:
Polres Subulussalam Berhasil Amankan Tiga Orang Terduga Pelaku TPPO Rohingya
Sisi visual dipercayakan kepada sinematografer Kitagawa Yoshio, sementara musik digubah oleh komponis Ernst Reijseger, yang sebelumnya banyak bekerja sama dengan sutradara ternama Werner Herzog.
Film ini diproduksi oleh Watanabe Kazutaka melalui rumah produksi E.x.N K.K., dengan dukungan sejumlah produser bersama dari berbagai negara.
Penjualan dan distribusi internasional ditangani oleh Rediance, yang dikenal kerap membawa karya Asia ke panggung global.
Baca Juga:
Kemenag Kabupaten Aceh Barat Telusuri Pasangan Rohingya Nikah di Lokasi Penampungan
Melalui “Lost Land”, Fujimoto menghadirkan sebuah kisah yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menyuarakan realitas pahit yang dihadapi pengungsi Rohingya.
Lebih dari sekadar film, karya ini menjadi pengingat pentingnya menjaga budaya, bahasa, dan identitas yang terancam punah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.