BMKG juga mencatat sedikitnya 15 kali gempa susulan terjadi setelah gempa utama yang menunjukkan aktivitas tektonik masih berlangsung dan berpotensi memicu guncangan lanjutan.
"Wilayah Laut Maluku memang memiliki banyak patahan aktif sehingga menjadi salah satu sumber gempa terbanyak, khususnya di bagian barat Halmahera," jelasnya.
Baca Juga:
Gempa M5,4 Guncang Sukabumi pada Dini Hari, Getarannya Terasa hingga Jakarta
Fenomena gempa ini disebabkan oleh aktivitas lempeng di Laut Maluku dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault di kawasan pertemuan Lempeng Laut Maluku dengan sistem patahan Sangihe dan Halmahera yang dikenal sebagai zona seismik aktif.
Berdasarkan pemodelan BMKG, estimasi waktu tiba gelombang tsunami berbeda di sejumlah wilayah yakni Ternate sekitar pukul 06.53 WIT, Halmahera 06.54 WIT, dan Tidore 06.56 WIT, sementara wilayah Sulawesi Utara seperti Bitung dan Minahasa juga masuk dalam status siaga.
BMKG pun mengeluarkan arahan penting sesuai status peringatan di mana wilayah berstatus siaga diminta segera melakukan evakuasi oleh pemerintah daerah, sedangkan wilayah berstatus waspada diimbau menjauhi pantai dan tepian sungai.
Baca Juga:
Pacitan Diguncang Gempa 64 Magnitudo
Hingga laporan terakhir pada pukul 08.24 WIT, kondisi di sejumlah wilayah Maluku Utara terpantau relatif terkendali meski masyarakat tetap diminta siaga terhadap kemungkinan gempa susulan dan potensi gelombang lanjutan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.