WahanaNews.co | Buntut dari peristiwa keracunan yang menimpa 55 siswa SMP Marsudirini Kecamatan Kemang kemarin, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, membawa sampel makanan yang dikonsumsi para siswa tersebut ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyakit (BBTKLPP) Jakarta.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Bogor, Adang Mulyana mengatakan, sampel tersebut akan diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan yang ada di dalam makanan yang mengakibatkan keracunan.
Baca Juga:
Puluhan Siswa SMKN 1 Lobalain Diduga Keracunan Usai Makan Kue dari Toko Kevin Bakery
“Untuk sampel makanan rencananya akan dibawa ke BBTKLPP Jakarta Laboratorium milik Kemenkes,” kata Adang kepada wartawan, Selasa (21/2/2023).
Dia memperkirakan proses uji sampel memakan waktu cukup lama karena harus pembiakan.
“Mungkin agak lama, karena biasanya ada beberapa parameter yang melalui proses pembiakan,” jelas Adang.
Baca Juga:
28 Orang di Gowa Keracunan Makanan, Mayoritas Pegawai Pemerintahan
Untuk saat ini, Adang menyebut kondisi 55 siswa yang keracunan tersebut sudah berangsur pulih.
“Keadaan sudah kondusif dan terlayani dengan baik,” jelas Adang.
Diketahui, Kejadian keracunan di SMP Marsudirini, bermula saat siswa tengah mengikuti kegiatan di Asrama Marsudirini pada Sabtu (18/2/2023).
Saat itu, para peserta acara itu pun mengonsumsi makanan yang disiapkan yayasan seperti shabu-shabu, es doger maupun pizza.
Penanggung jawab Yayasan Marsudirini Perwakilan Bogor, Helena menyebut tidak ada tanda-tanda siswa keracunan usai mengkonsumsi makanan dan selesai acara. Semua berjalan seperti biasa.
“Jadi anak-anak mengonsumsi shabu-shabu dan kemudian malamnya itu dapat es doger yang kami pesan dan ada yang memberi pizza. Sampai Minggu itu tidak ada keluhan,” kata Helena kepada wartawan.
Selain itu, para siswa pun sempat memakan soto, ayam goreng dan hidangan lainnya.
Setelah menyantap makanan ini pada Minggu (19/2/2023) sekitar pukul 23.30 WIB, beberapa siswa mengeluhkan rasa mual.
Kemudian, pihak yayasan memberikan susu. Namun, pada Senin (20/2/2023) pagi, semakin banyak yang mengeluhkan hal sama.
Helena mengungkapkan, dari 91 murid peserta kegiatan, 55 di antaranya mengeluhkan mual, pusing hingga muntah. Meski begitu, dia memastikan seluruhnya telah ditangani di rumah sakit. [sdy]