WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dua kebo bule keturunan Kiai Slamet batal tampil dalam Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo karena sedang mengalami masa berahi.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo digelar pada Selasa (16/6/2026) malam dengan jumlah kebo bule yang lebih sedikit dari rencana awal.
Baca Juga:
Suksesi Keraton Solo Memanas, Dua Pangeran Dinobatkan, Keluarga Minta Pemerintah Turun Tangan
Semula, prosesi kirab direncanakan diikuti lima kebo bule sebagai cucuk lampah atau pemimpin barisan kirab pusaka.
Namun, jumlah kebo bule yang akan mengikuti prosesi akhirnya berkurang menjadi tiga ekor.
Dua kebo bule yang batal ikut kirab masing-masing bernama Ponco yang berjenis kelamin jantan dan Mugi yang berjenis kelamin betina.
Baca Juga:
2 Kubu Keraton Solo Akhirnya Bertemu Usai 10 Tahun Berkonflik
Serati Mahesa atau pawang kebo bule, Heri Sulistyo, mengatakan Ponco dan Mugi tidak bisa diikutsertakan karena sedang berada dalam masa kawin.
“Ya, 3 ekor yang kirab,” kata Heri , melansir Kompas, Selasa (16/6/2026).
Heri menjelaskan keputusan itu diambil setelah melihat kondisi dua kebo bule yang dikhawatirkan tidak dapat berjalan dengan tertib saat prosesi berlangsung.
“Ini kan kemarin kan rencana ada 5, kan ini yang 2 itu berahi, Ponco sama Mugi,” kata Heri.
Menurut Heri, kondisi berahi membuat Ponco dan Mugi berpotensi sulit dikendalikan bila tetap dipaksakan menjadi bagian dari kirab, sehingga keduanya tidak diikutsertakan karena dikhawatirkan tidak mau berjalan.
Dengan batalnya Ponco dan Mugi, tiga kebo bule yang tetap disiapkan untuk tampil sebagai cucuk lampah ialah Nyai Pahing, Wati, dan Suro.
Ketiga kebo bule tersebut akan memimpin prosesi kirab sesuai arahan dari Keraton Solo.
“Yang mau jalan 3 ini,” kata Heri.
Ia menyebut keputusan untuk hanya membawa tiga kebo bule sudah sesuai dengan rencana terbaru dari pihak keraton.
“Rencana sudah dari keraton sudah 3 ini, ndak apa-apa gitu,” ujarnya.
Heri memastikan tidak ada kebo bule pengganti untuk menggantikan Ponco dan Mugi dalam prosesi kirab malam nanti.
Ketiadaan pengganti itu bukan tanpa alasan karena kebo bule yang biasa tampil dalam kirab merupakan hewan yang telah disiapkan sejak lama dan terbiasa mengikuti prosesi.
Menurut Heri, kebo-kebo lain belum pernah dilatih untuk mengikuti kirab sehingga tidak memungkinkan langsung diturunkan dalam prosesi besar yang disaksikan banyak masyarakat.
Tiga kebo bule yang dinilai siap mengikuti kirab ialah Pahing, Nyai Wati, dan Suro.
“Yang ndak mau jalan Ponco sama Mugi,” kata Heri.
Selain mempertimbangkan kelancaran prosesi, pihak pawang juga memperhitungkan faktor keselamatan masyarakat yang hadir menyaksikan kirab.
Heri khawatir Ponco dan Mugi menjadi rewel di tengah jalan apabila tetap dibawa keluar kandang saat kondisinya sedang berahi.
“Ya nanti takutnya di jalan rewel itu lho,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai berisiko karena kirab biasanya dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung kebo bule keturunan Kiai Slamet.
“Takutnya nanti ngenai pengunjung, membahayakan pengunjung,” kata Heri.
Saat ini, Ponco dan Mugi tetap berada di kandang Alun-alun Kidul dan tidak akan dilibatkan dalam prosesi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo tetap berlangsung dengan tiga kebo bule sebagai cucuk lampah, yakni Nyai Pahing, Wati, dan Suro.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]