Ia menjelaskan bahwa pengguna perahu nelayan perlu meningkatkan kewaspadaan saat kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter.
Sementara itu, operator kapal tongkang diminta lebih berhati-hati apabila kecepatan angin mencapai 16 knot disertai tinggi gelombang sekitar 1,5 meter.
Baca Juga:
BMKG Pastikan Gempa Sukabumi Akibat Subduksi, Tidak Berpotensi Tsunami
BMKG juga memantau adanya pusat tekanan rendah di wilayah timur laut Australia yang memicu belokan angin, perlambatan, serta pertemuan massa udara di wilayah NTT.
Selain itu, aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation turut meningkatkan potensi hujan lebat di kawasan tersebut.
“Waspada pula terhadap kemunculan awan Cumulonimbus yang dapat meningkatkan tinggi gelombang serta menyebabkan perubahan arah dan kecepatan angin secara signifikan dan tiba-tiba,” tambah Yandri.
Baca Juga:
Gempa M5,4 Guncang Sukabumi pada Dini Hari, Getarannya Terasa hingga Jakarta
BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, serta pengguna jasa transportasi laut untuk rutin memantau informasi cuaca maritim terkini.
Masyarakat juga diminta menunda aktivitas melaut apabila kondisi dinilai tidak aman sebagai langkah pencegahan kecelakaan laut di tengah cuaca yang dinamis.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini].
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.