Selain gempa letusan, petugas mencatat sebanyak 46 kali gempa hembusan, 10 kali tremor harmonik, serta 11 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Aktivitas tremor menerus atau microtremor juga terekam oleh instrumen pemantauan dengan amplitudo dominan sekitar 20 milimeter.
Baca Juga:
Berstatus Siaga, Gunung Anak Krakatau Erupsi 3 Kali
Merespons aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Siaga, PVMBG mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat dan wisatawan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya vulkanik.
Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas di kawasan yang masuk dalam radius bahaya yang direkomendasikan otoritas vulkanologi.
Rekomendasi tersebut diberlakukan untuk mengantisipasi sejumlah potensi bahaya akibat aktivitas gunung api, terutama lontaran material vulkanik dari kawah aktif.
Baca Juga:
Berstatus Siaga, Gunung Anak Krakatau Meletus 7 Kali
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kemudian meningkat tajam pada Senin (17/8/2026), ketika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sebanyak 20 kali erupsi dalam satu hari.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas vulkanik gunung tersebut terus dipantau secara intensif melalui pengamatan visual maupun instrumental.
"Hari ini tidak ada," kata Suwarno di Lampung Selatan, Selasa (18/8/2026).