Setibanya di perbatasan, bentrokan pun pecah dan kedua kelompok saling menyerang menggunakan parang, senapan angin, serta busur panah.
Upaya melerai bentrokan sempat dilakukan oleh seorang pendeta bernama Japy Tenu, namun usaha tersebut tidak berhasil menghentikan kekerasan.
Baca Juga:
Berdalih Punya Letter C, Samuel Nekat Gusur Rumah Nenek 80 Tahun di Surabaya
Situasi semakin memburuk ketika warga dari kedua desa terus berdatangan ke lokasi bentrokan di perbatasan, tepatnya di lapangan bola SMA Negeri 8 sekitar pukul 17.00 WIT.
Anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa dari kedua desa sempat turun tangan untuk meredam bentrokan yang terus meluas.
Namun bentrokan kembali pecah pada Jumat (2/1/2025) sekitar pukul 09.00 WIT ketika warga Desa Apara dilaporkan kembali melakukan penyerangan terhadap warga Desa Longgar.
Baca Juga:
Pengusiran Brutal Nenek Lansia di Surabaya Berujung Laporan ke Polda Jatim
Akibat bentrokan lanjutan tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan keterangan sementara, pemicu utama bentrokan diduga berkaitan dengan sengketa lahan di wilayah perbatasan yang diklaim sebagai hak milik masing-masing desa.
Kapolres Kepulauan Aru AKBP Albert Perwira Sihite membenarkan terjadinya bentrokan antarwarga tersebut.