Setibanya di perbatasan, bentrokan pun pecah dan kedua kelompok saling menyerang menggunakan parang, senapan angin, serta busur panah.
Upaya melerai bentrokan sempat dilakukan oleh seorang pendeta bernama Japy Tenu, namun usaha tersebut tidak berhasil menghentikan kekerasan.
Baca Juga:
Pengusiran Brutal Nenek Lansia di Surabaya Berujung Laporan ke Polda Jatim
Situasi semakin memburuk ketika warga dari kedua desa terus berdatangan ke lokasi bentrokan di perbatasan, tepatnya di lapangan bola SMA Negeri 8 sekitar pukul 17.00 WIT.
Anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa dari kedua desa sempat turun tangan untuk meredam bentrokan yang terus meluas.
Namun bentrokan kembali pecah pada Jumat (2/1/2025) sekitar pukul 09.00 WIT ketika warga Desa Apara dilaporkan kembali melakukan penyerangan terhadap warga Desa Longgar.
Baca Juga:
Rampas Sertifikat dan Motor, Ormas di Surabaya Usir Paksa Nenek Elina dari Rumahnya
Akibat bentrokan lanjutan tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan keterangan sementara, pemicu utama bentrokan diduga berkaitan dengan sengketa lahan di wilayah perbatasan yang diklaim sebagai hak milik masing-masing desa.
Kapolres Kepulauan Aru AKBP Albert Perwira Sihite membenarkan terjadinya bentrokan antarwarga tersebut.