WAHANANEWS.CO, Jakarta - Guru di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Agus Saputra mendatangi kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk memberikan klarifikasi atas insiden pengeroyokan yang menimpanya, Rabu (14/1/2026), langkah ini dilakukan untuk meluruskan tudingan miring yang beredar luas di media sosial setelah video kejadian viral.
Dalam video yang beredar, Agus disebut melakukan penghinaan terhadap siswa miskin dan membawa senjata tajam ke sekolah, tudingan yang menurutnya sama sekali tidak benar dan perlu diluruskan agar publik memahami konteks sebenarnya.
Baca Juga:
Pelecehan Seksual di Dalam Bus, Transjakarta Dukung Korban Tempuh Jalur Hukum
"Awalnya saya dipanggil dengan kata-kata kasar oleh siswa. Saya datangi, lalu saya tampar sebagai bentuk pembelajaran," kata Agus di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rabu (14/1/2026).
Mengenai video yang memperlihatkan dirinya membawa benda tajam sejenis celurit, Agus menjelaskan bahwa alat tersebut merupakan peralatan pertanian milik sekolah dan digunakan untuk praktik jurusan pertanian, bukan untuk menyerang.
"Saya bawa alat itu agar mereka bubar. Tak ada niatan lain," ujarnya.
Baca Juga:
Viral Curhat Jarak 114 Km, Disiplin ASN Mengakhiri Karier Nur Aini
Tudingan penghinaan terhadap status ekonomi siswa juga dibantah Agus, ia menegaskan bahwa pembicaraannya bersifat motivasi umum agar siswa mematuhi aturan sekolah, bukan menyasar individu tertentu.
"Tak ada niat mau mengejek atau menghina. Konteksnya mendorong siswa mematuhi aturan, sebagai motivasi umum, tidak spesifik ke individu siswa," tambah Agus.
Insiden bermula Selasa pagi (13/1/2026), ketika Agus yang sedang berjalan di lingkungan sekolah merasa dilecehkan secara verbal oleh seorang siswa dan mendengar kata-kata yang dianggap sangat tidak sopan.
Agus kemudian menghampiri kelas sumber suara tersebut untuk mencari tahu pelakunya, dan ketika seorang siswa mengakui dengan gestur menantang, ia refleks menampar satu kali sebagai teguran spontan.
“Itu refleks, satu kali tamparan. Itu awal kejadiannya," kata Agus.
Setelah kejadian, suasana sekolah menjadi tidak kondusif, para siswa terus menantang Agus hingga waktu pulang sekolah, dan meski dilakukan mediasi di ruangan dengan CCTV, situasi berujung ricuh saat Agus dikeroyok oleh massa siswa dari berbagai angkatan.
"Di situ saya dikeroyok. Videonya viral. Banyak siswa mulai dari kelas 1, 2 dan 3," ujar Agus.
Meski menjadi korban kekerasan fisik, Agus masih menimbang untuk menempuh jalur hukum karena merasa berat melaporkan anak didiknya sendiri mengingat masa depan dan kondisi psikologis mereka.
“Saya merinding kalau harus melapor ke polisi. Mereka ini anak didik saya, masih sekolah dan secara psikologis butuh bimbingan," kata dia menutup klarifikasinya.
Kepala Sekolah, Ranto M, membenarkan insiden namun memastikan pihak sekolah telah melakukan mediasi melibatkan Forkopimcam, kepolisian, dan Babinsa.
Saat ini situasi sekolah dilaporkan kondusif dan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini].