“Dulu masyarakat Depok punya kebiasaan menanam ikan setelah Lebaran, lalu dipanen bersama. Tradisi itu yang kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Pada hari berikutnya, 6 Mei 2026, masyarakat akan melaksanakan tradisi nyuciin parabotan, yakni membersihkan peralatan rumah tangga sebagai simbol penyucian diri setelah Idul Fitri.
Baca Juga:
LSM Kota Depok Gelar Rekonsiliasi, Serukan Persatuan Pascapilkada Redam Friksi
Selain itu, akan digelar pula pameran budaya Nusantara di kawasan Alun-alun Grand Depok City yang menampilkan beragam kekayaan tradisi dari berbagai daerah di Indonesia.
Memasuki 7 Mei 2026, tradisi andilan turut dihadirkan, yakni kegiatan patungan warga untuk membeli kerbau yang kemudian disembelih bersama. Bersamaan dengan itu, tradisi nyedengin baju juga akan dikemas secara kreatif dalam bentuk peragaan busana yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat.
“Tradisi seperti andilan dan nyedengin baju mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial masyarakat Depok tempo dulu,” kata Hamzah.
Baca Juga:
Sinyalemen IMB Lymo House 2 Grogol Ilegal, tidak Terdaftar di DPMPTSP Kota Depok
Selama rangkaian acara, panitia juga akan menghadirkan pasar kaget serta beragam kuliner khas tempo dulu, seperti kue maleman dan selendang mayang.
“Dulu Lebaran di Depok dirayakan sederhana, tapi penuh kebersamaan. Itu yang ingin kita hadirkan kembali,” ujarnya.
Puncak acara akan berlangsung dengan kegiatan makan bersama sebagai simbol persatuan warga. Selain itu, tradisi rantangan—yakni mengantarkan makanan kepada orang tua atau sesepuh—juga kembali dihidupkan sebagai bentuk penghormatan lintas generasi.