"Sungainya mengalami pendangkalan dan penyempitan ruas sungai," katanya.
Ia mengatakan, jika sungai dangkal, aliran air ke sawah sangat minim.
Baca Juga:
Dosen dan Mahasiswa Pertanian Unib Memotivasi Masyarakat Untuk Melanjutkan Budidaya Organik Tanaman Cabai di Kelurahan Lempuing Kota Bengkulu.
Padahal, semula, hasil panen saat musim padi di Desa Karangbenda bisa mencapai 100 ton.
Sementara, saat kondisi Sungai Cikiray dangkal dan minim air, panen padi dari pesawahan Karangbenda hanya menghasilkan 25 ton per musim.
Asep mengatakan, sudah menerima banyak keluhan dari warga saat hasil panen padi warganya tidak maksimal.
Baca Juga:
PLN Dorong Modernisasi Pertanian Lewat Program Electrifying Agriculture, Petani Krisan Tomohon RaupUntung Besar
"Sudah kami usahakan penanganan dengan pengerukan sungai secara manual," katanya.
Namun, untuk pengerukan, ujar Asep, masih memerlukan lebih banyak lagi biaya, karena panjang sungai sekitar 3 km.
"Kami sudah menjadikan usulan prioritas untuk pengerukan Sungai Cikiray, namun sampai saat ini setiap musyawarah perencanaan pembangunan kabupaten belum terakomodir. Padahal, desa adalah kekuatan ekonomi, dan mayoritas bekerja sebagai petani," katanya.