Sementara itu, Plt. Deputi PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Laksmi Widjajayanti mengatakan Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari, sehingga diperlukan strategi pengelolaan sampah yang terpadu dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, penerapan teknologi Waste to Energy (WtE) merupakan salah satu solusi penting karena mampu mengolah residu sampah menjadi energi listrik. Namun demikian, WtE bukanlah satu-satunya solusi dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga:
Pasar Inpres Senen Blok VI Segera Dibangun
“Ada kebijakan pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui Waste to Energy. Namun teknologi ini hanya menyelesaikan sebagian persoalan. Diperkirakan sekitar 24 persen permasalahan sampah dapat ditangani melalui pendekatan tersebut,” kata Laksmi.
Karena itu, lanjutnya, pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional.
Senada dengan itu, Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Erma Putri mengatakan sampah plastik harus mendapat perhatian serius karena selain mencemari lingkungan, juga berpotensi mengancam kesehatan manusia melalui pencemaran mikroplastik.
Baca Juga:
Pasar Senen Blok VI Dibangun, Perumda Pasar Jaya Minta Pedagang Setor Bukti Keseriusan
“Ketika kita berbicara tentang plastik, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang polusi yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Erma menjelaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta terus mendorong masyarakat, perkantoran, kawasan permukiman, serta pelaku usaha untuk memilah sampah ke dalam empat kategori, yaitu sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Di tempat yang sama, Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto (SGY-Emik) menilai pasar tradisional merupakan salah satu titik paling strategis dalam mengurangi timbulan sampah plastik. Karena itu, Perumda Pasar Jaya memiliki peran yang sangat besar dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah di lingkungan pasar.