Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menambahkan, dengan ditemukannya segmen sesar baru, setelah gempa Pasaman Barat ini, akan menjadi penanda pola patahan tektonik yang baru.
Kawasan yang dilewati jalur sesar tersebut perlu diwaspadai karena di masa yang akan datang kejadian gempa kuat dapat terulang kembali, seperti yang terjadi pada gempa Pasaman Barat beberapa waktu lalu.
Baca Juga:
Menko PMK Sebut Jumlah Pengungsi Gempa di Sumbar Mencapai 15 Ribu
"Selama ini dianggap sebagai zona yang relatif aman, karena memang belum pernah terjadi gempa kuat. Namun kemarin, pusat gempa justru berada disitu. Ini perlu diwaspadai dan ke depan harus dimitigasi," ujarnya.
Dwikorita mengatakan, kawasan segmen sesar baru Pasaman itu memiliki potensi dampak gempa dengan intensitas guncangan yang cukup kuat, dapat mencapai skala intensitas VII-VIII MMI.
Pada skala intensitas tersebut gempa dapat merobohkan struktur bangunan atau rumah dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat, sehingga apabila tidak diantisipasi dapat berakibat fatal bagi warga.
Baca Juga:
BMKG: Tercatat Ada 195 Gempa Susulan di Pasaman Barat Sumbar
Dengan makin bertambahnya segmen patahan aktif yang ditemukan di wilayah Sumatera Barat ini, sumber-sumber gempa yang perlu diwaspadai dan dimitigasi tidak hanya di Zona Megathtust dan Patahan Mentawai yang berada di laut saja.
Namun, sumber gempa bumi dari segmen-segmen sesar aktif di darat dengan pusat gempa yang umumnya dangkal juga perlu diwaspadai.
Oleh karena itu, sesar baru yang teridentifikasi setelah bencana gempa di Sumbar tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama mengenai tata ruang.