Karena khawatir, Srikanti pun akhirnya pulang ke Cianjur. "Apalagi ayah juga ngasih kabar, nyuruh saya untuk segera pulang ke Cianjur," kata Srikanti.
Srikanti mengatakan, sejak ada kabar ibunya ikut terkubur bersama rombongan kepala sekolah lainnya di Cugenang, ayahnya tak pernah pulang.
Baca Juga:
10 Produk Ekspor RI ke AS yang Paling Terdampak Tarif Trump
"Ayah terus berada di lokasi longsor hingga jasad Mama dan adik ditemukan hari ini," kata Srikanti.
Selain Yanti dan anaknya, enam korban meninggal lainnya di mobil Avanza B 2628 SKR milik TK Al Azhar itu adalah Kepala TK Perwari, Yayah Rodiah; Kepala TK Kosgoro, Ilis Nurhaeni; Kepala TK Al Azhar, Yeni Siti Rohaeni; seorang guru, Tati Rohayati, dan Kepala TU Al Azhar, Andi Sulaeman.
Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan, dalam upaya pencarian, kemarin, sebanyak 17 jenazah berhasil ditemukan dan diangkat dari longsoran tebing dan reruntuhan bangunan. Suharyanto mengatakan dengan penemuan 17 jenazah ini, total sudah 310 korban jiwa yang mereka temukan.
Baca Juga:
Asaki: TKDN dan Program 3 Juta Rumah Lindungi Pasar Keramik Domestik dari Tarif Trump
Dari 17 korban meninggal yang mereka temukan kemarin, ujar Suharyanto, delapan di antaranya sudah teridentifikasi nama dan alamatnya sebagai warga Cugenang.
Adapun sembilan lainnya diduga adalah mereka yang saat longsor terjadi kebetulan tengah melintas di sana.
Ia mengatakan, tim gabungan masih akan terus menyisir lokasi longsoran tebing ini untuk mencari korban lainnya. "Masih ada 24 warga Cugenang yang masih belum ditemukan," ujarnya.(jef)