“Kalau yang berhubungan dengan akhlak dan karakter, tesnya berbeda lagi dan TKA fokus pada akademik supaya terukur secara objektif. Ini bukan akhir dari segalanya, usai tes para siswa tetap belajar, masih ada waktu untuk meningkatkan kemampuan mereka,” ucap Abdul Mu’ti.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa hasil TKA justru diharapkan menjadi cermin bagi siswa untuk mengetahui posisi dan kelemahan akademik mereka secara lebih spesifik.
Baca Juga:
Mendikdasmen Abdul Mu'ti Tegaskan Keluarga Fondasi Utama Pendidikan Karakter Bangsa
Ia menanggapi sorotan publik terkait rendahnya nilai bahasa Inggris dengan menekankan bahwa ruang lingkup materi yang diujikan masih terbatas.
“Dari hasil tes, siswa bisa tahu kemampuan bahasa Indonesia atau mata pelajaran lain ada di level mana dan bagian mana yang harus diperbaiki. Tes bahasa Inggris kemarin hanya mengukur reading,” ujarnya.
Ia memastikan seluruh butir soal TKA disusun oleh tim ahli yang kompeten dengan standar pengukuran yang jelas.
Baca Juga:
Pemerintah Perkuat Kompetensi Guru Lewat Program RPL Terintegrasi
Pemerintah berharap TKA dapat menjadi instrumen pemetaan mutu pendidikan nasional sekaligus dasar perumusan kebijakan dan perbaikan proses pembelajaran di sekolah.
Sementara itu, Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Muhammad Yusro menjelaskan bahwa kebijakan pelaksanaan TKA dirancang agar dapat diikuti oleh seluruh murid yang memenuhi persyaratan, termasuk murid berkebutuhan khusus.
Ia menyebutkan, syarat utama pendaftaran TKA adalah murid berada di kelas enam Sekolah Dasar (SD) atau kelas sembilan Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) yang valid.