Sementara itu, 12 rumah sakit lainnya masih mengalami kekurangan tenaga medis ahli, bahkan tujuh rumah sakit di antaranya belum memiliki dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi.
Berdasarkan proyeksi hingga tahun 2029, Kalimantan Tengah diperkirakan membutuhkan sedikitnya 84 dokter spesialis Obgyn untuk memperkuat layanan kesehatan masyarakat sekaligus menekan angka kematian ibu dan anak.
Baca Juga:
Mengenal Kecapi Dayak, Alat Musik Tradisional Sarat Makna Budaya dan Spiritual
Wamendiktisaintek menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk terlibat langsung dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah.
“Perguruan tinggi tidak boleh lagi menjadi menara gading yang jauh dari masyarakat. Kampus harus hadir sebagai problem solver bagi berbagai persoalan di daerah, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pengentasan kemiskinan,” ujar Fauzan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan fasilitas layanan kesehatan, program pendidikan gratis serta penguatan pendidikan dokter spesialis ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan berdaya saing global dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga:
Viral! Langit Kalteng Berkilau Warna-warni, BMKG Pastikan Bukan Tanda Bencana
[Redaktur: Ajat Sudrajat]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.