WAHANANEWS.CO, Jakarta – Hasil Penelitian Universitas Pertamina (UPER) simpulkan bahwa penolakan masyarakat kepada proyek energi masih menjadi tantangan signifikan di Indonesia. Faktor komunikasi, transparansi, dan tingkat kepercayaan masyarakat menjadi penentu utama penerimaan terhadap proyek energi, termasuk teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS), yaitu teknologi yang menangkap gas karbon dioksida (CO₂)—gas sisa dari aktivitas industri—agar tidak lepas ke atmosfer dan memperparah perubahan iklim. Data Komnas HAM, 2024 mencatat, 114 pengaduan terkait penolakan Proyek Strategis Nasional sepanjang 2020–2023, didominasi sektor energi dan pertambangan ini.
Tim peneliti Program Studi Ilmu Komunikasi UPER yang dipimpin oleh Dr. Ir. Farah Mulyasari, S.T., M.Sc. bersama Muhammad Nur Ahadi, M.I.Kom., dan Ita Musfirowati Hanika, M.I.Kom., telah kaji persepsi masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur energi di tiga wilayah, yaitu di Luwuk, Sulawesi Tengah; Blora, Jawa Tengah; Karawang, Jawa Barat. Di tiga wilayah ini, pemerintah setempat, tokoh adat, media lokal, dan komunitas menjadi aktor kunci dalam membangun kepercayaan dan menjembatani komunikasi antara proyek dan masyarakat.
Baca Juga:
Komnas HAM Kejar Pemeriksaan 4 Anggota TNI di Kasus Air Keras Andrie Yunus
Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi masyarakat tidak semata dipicu oleh teknologi itu sendiri, melainkan oleh minimnya pelibatan publik sejak tahap awal perencanaan, keterbatasan akses informasi, serta kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan sosial.
Ketua Tim Peneliti Program Studi Ilmu Komunikasi UPER, Dr. Ir. Farah Mulyasari, S.T., M.Sc., (duduk di hadapan hadirin, kedua dari kiri) dan para peneliti Universitas Pertamina saat saat melakukan pemaparan materi FGD di Kecamatan Batui Selatan, Luwuk, Sulawesi Tengah beberapa waktu yang lalu di tahun 2025. Rabu (5/4/2026. [WAHANANEWS.CO / Arsip UPER]
“Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan survei dan wawancara mendalam untuk memetakan tingkat pemahaman, kekhawatiran, serta faktor sosial yang mempengaruhi penerimaan masyarakat. Setiap daerah memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda, sehingga pendekatan dalam implementasi CCUS tidak bisa disamaratakan,” sebut Farah, Senin (6/4/2026).
Baca Juga:
Dokter RSCM Sebut Andrie Disiram Zat Asam Kuat, Bukan Air Keras
Sebut lepasan pers UPER ini, strategi komunikasi dan pelibatan masyarakat perlu disesuaikan dengan konteks lokal supaya lebih efektif dan dapat membangun kepercayaan. Teknologi CCUS sendiri dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung transisi energi. International Energy Agency tahun 2023 memperkirakan teknologi ini mampu menangkap hingga 90 persen emisi karbon dari sektor industri dan pembangkit listrik, serta berkontribusi signifikan dalam upaya penurunan emisi global menuju 2050.
Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi teknologi tidak hanya bergantung pada kesiapan finansial dan teknologi, tetapi juga pada penerimaan sosial. Tanpa pelibatan masyarakat yang bermakna, proyek energi berisiko menghadapi konflik sosial, penundaan, hingga kegagalan implementasi.
Para Peneliti Program Studi Ilmu Komunikasi UPER bersama peserta FGD di Kecamatan Batui Selatan, Luwuk, Sulawesi Tengah beberapa waktu yang lalu di tahun 2025. Rabu (5/4/2026. [WAHANANEWS.CO / Arsip UPER]