WAHANANEWS.CO, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyoroti keras dampak industri nikel terhadap kesehatan warga dan kerusakan lingkungan di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang kian mengkhawatirkan.
Sorotan ini muncul seiring temuan meningkatnya risiko sosial serta lemahnya pengawasan terhadap aktivitas industri di lapangan.
Baca Juga:
Ancaman Meluas, 12 Orang Minta Perlindungan di Kasus Air Keras Andrie Yunus
Disampaikan di Jakarta, Kamis (09/04/2026), Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM Uli Parulian Sihombing menjelaskan bahwa kajian dilakukan berdasarkan pengaduan masyarakat sepanjang 2020 hingga 2025 dengan pendekatan normatif dan empiris, termasuk peninjauan langsung ke wilayah terdampak.
"Kajian ini tidak dilakukan secara parsial, tetapi untuk melihat secara menyeluruh (helicopter view) atas berbagai aduan secara lebih komprehensif," ujarnya.
Hasil kajian tersebut menunjukkan lonjakan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di kawasan industri nikel.
Baca Juga:
Komnas HAM Kejar Pemeriksaan 4 Anggota TNI di Kasus Air Keras Andrie Yunus
"Data menunjukkan adanya peningkatan kasus ISPA yang cukup tinggi, mencapai sekitar 50.000 kasus per tahun di wilayah terdampak," katanya.
Selain berdampak pada kesehatan, aktivitas pertambangan dan smelter turut memicu deforestasi, pencemaran air, serta perubahan ekosistem yang berujung pada banjir dan penurunan kualitas lingkungan hidup.
Komnas HAM juga mencatat penurunan kualitas udara dan air yang berkorelasi dengan aktivitas industri berbasis batu bara, sehingga memperparah emisi dan menjadi tantangan dalam mencapai target net zero emission 2060.