Acara penghargaan yang berlangsung di Jakarta ini turut dihadiri oleh para pemangku kepentingan di sektor ketenagalistrikan, termasuk perwakilan pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha. Dalam acara tersebut, beberapa LSK unggulan menerima penghargaan atas kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas sertifikasi dan mendukung pengembangan ketenagalistrikan yang aman dan andal.
ALPERKLINAS berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menciptakan ekosistem ketenagalistrikan yang lebih baik, termasuk mendorong standar yang lebih tinggi dalam proses sertifikasi. Dengan penghargaan ini, diharapkan kualitas layanan ketenagalistrikan di Indonesia semakin maju dan mampu bersaing di tingkat global.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Desak Kepala Daerah Tiru Respons Cepat Walikota Langsa Tangani PJU Padam Demi Keamanan Masyarakat
“Ini adalah momentum penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga sertifikasi dan keselamatan listrik secara keseluruhan,” tutup KRT Tohom Purba.
Diberitakan sebelumnya, Jisman Hutajulu, Dirjen Ketenagalistrikan, dalam sambutannya menekankan bahwa kemandirian energi dan hilirisasi merupakan dua hal yang sangat penting dalam mendukung perekonomian nasional.
"Seperti yang disampaikan oleh Presiden Prabowo usai dilantik, kemandirian energi adalah salah satu tugas besar kita, dan hilirisasi yang akan menunjang perekonomian kita, dengan target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yaitu hingga 8%. Saat ini, kita berada di sekitar 5-5,5%," ujar Jisman dalam pidatonya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi PLN UID Jakarta Raya yang Sukses Jaga Keandalan Listrik Salat Idul Fitri 1446 H di Masjid Istiqlal
Ia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia kaya akan sumber daya energi, seperti batu bara dan gas, ketergantungan pada impor, terutama untuk minyak dan LPG, masih menjadi masalah besar.
"Kita memproduksi 600.000 barel minyak per hari, sementara kebutuhan kita mencapai 1,6 juta barel, sehingga impor kita mencapai 1 juta barel per hari. Selain itu, sekitar 80% LPG yang kita konsumsi juga diimpor, yang berarti kita mengeluarkan lebih dari 80 triliun rupiah untuk impor tersebut," jelasnya.
Kemandirian energi, menurut Jisman, harus diterjemahkan dalam bentuk energi yang cukup dan terjangkau.