WahanaNews.co, Jakarta – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) memberikan apresiasi penuh atas inisiatif pemerintah melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) dalam memberikan penghargaan kepada Lembaga Sertifikasi Ketenagalistrikan (LSK) terbaik tahun 2024.
Penghargaan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mendorong peningkatan kualitas dan profesionalisme dalam layanan sertifikasi ketenagalistrikan di Indonesia.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Desak Kepala Daerah Tiru Respons Cepat Walikota Langsa Tangani PJU Padam Demi Keamanan Masyarakat
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk motivasi bagi lembaga sertifikasi untuk terus menjaga standar tinggi demi memastikan keamanan konsumen listrik serta kepastian kualitas instalasi listrik di Tanah Air.
Acara penghargaan yang menjadi bagian dari penilaian kinerja LSK periode 2023-2024 ini diselenggarakan oleh DJK di Avenzel Hotel and Convention, Kranggan, Cibubur, Jawa Barat, pada Kamis (21/11/2024).
Selain mengapresiasi lembaga terbaik, kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi badan usaha jasa penunjang tenaga listrik untuk terus meningkatkan kontribusi mereka dalam mendukung sektor ketenagalistrikan nasional.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi PLN UID Jakarta Raya yang Sukses Jaga Keandalan Listrik Salat Idul Fitri 1446 H di Masjid Istiqlal
“Penghargaan kepada LSK terbaik bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga pengakuan atas peran penting mereka dalam mendukung keselamatan dan keberlanjutan sistem ketenagalistrikan nasional. Kami sangat menghargai upaya ini sebagai bagian dari komitmen untuk melindungi konsumen,” ujar KRT Tohom Purba kepada WahanaNews.co, Rabu (4/12/24) di Jakarta.
ALPERKLINAS juga menyoroti pentingnya peran LSK dalam memastikan bahwa semua instalasi listrik memenuhi standar keamanan dan kelayakan operasional melalui penerbitan Sertifikat Laik Operasi (SLO). Lembaga yang berkinerja baik, menurut KRT Tohom Purba, dapat menjadi teladan bagi yang lain.
“Dengan adanya penghargaan ini, kami berharap semua lembaga sertifikasi semakin terpacu untuk memberikan layanan terbaik dan transparan kepada masyarakat. Keselamatan konsumen harus menjadi prioritas utama,” tambahnya.
Acara penghargaan yang berlangsung di Jakarta ini turut dihadiri oleh para pemangku kepentingan di sektor ketenagalistrikan, termasuk perwakilan pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha. Dalam acara tersebut, beberapa LSK unggulan menerima penghargaan atas kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas sertifikasi dan mendukung pengembangan ketenagalistrikan yang aman dan andal.
ALPERKLINAS berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menciptakan ekosistem ketenagalistrikan yang lebih baik, termasuk mendorong standar yang lebih tinggi dalam proses sertifikasi. Dengan penghargaan ini, diharapkan kualitas layanan ketenagalistrikan di Indonesia semakin maju dan mampu bersaing di tingkat global.
“Ini adalah momentum penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga sertifikasi dan keselamatan listrik secara keseluruhan,” tutup KRT Tohom Purba.
Diberitakan sebelumnya, Jisman Hutajulu, Dirjen Ketenagalistrikan, dalam sambutannya menekankan bahwa kemandirian energi dan hilirisasi merupakan dua hal yang sangat penting dalam mendukung perekonomian nasional.
"Seperti yang disampaikan oleh Presiden Prabowo usai dilantik, kemandirian energi adalah salah satu tugas besar kita, dan hilirisasi yang akan menunjang perekonomian kita, dengan target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yaitu hingga 8%. Saat ini, kita berada di sekitar 5-5,5%," ujar Jisman dalam pidatonya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia kaya akan sumber daya energi, seperti batu bara dan gas, ketergantungan pada impor, terutama untuk minyak dan LPG, masih menjadi masalah besar.
"Kita memproduksi 600.000 barel minyak per hari, sementara kebutuhan kita mencapai 1,6 juta barel, sehingga impor kita mencapai 1 juta barel per hari. Selain itu, sekitar 80% LPG yang kita konsumsi juga diimpor, yang berarti kita mengeluarkan lebih dari 80 triliun rupiah untuk impor tersebut," jelasnya.
Kemandirian energi, menurut Jisman, harus diterjemahkan dalam bentuk energi yang cukup dan terjangkau.
"Energi yang tersedia harus andal dan terjangkau, karena listrik sudah menjadi kebutuhan primer bagi rumah tangga, industri, dan perekonomian. Ketika ekonomi tumbuh, kelistrikan juga harus mendukung pertumbuhannya," kata Jisman.
Dalam konteks hilirisasi, Jisman mencontohkan bagaimana ekspor nikel Indonesia yang dulu hanya bernilai 3,3 miliar dolar, kini telah melonjak menjadi 35 miliar dolar dalam enam tahun terakhir.
"Ini menunjukkan potensi hilirisasi untuk mendorong perekonomian, dan salah satu hasil hilirisasi ini adalah produksi baterai untuk kendaraan listrik, yang tentu membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam 10 tahun ke depan, Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 12-14 GW, dengan skenario rendah.
"Kami bekerja intensif dengan PLN untuk menyusun RUPTL yang baru. Proyek ini akan menambah kapasitas pembangkit sekitar 26 GW, sebagian besar berasal dari energi terbarukan," terang Jisman.
Jisman juga menekankan pentingnya peran sektor ketenagalistrikan dalam transisi menuju energi terbarukan.
"Kita harus mempercepat alih teknologi menuju energi terbarukan, seperti PLTS dan PLTA. Potensi energi angin di sepanjang Pulau Jawa bagian utara sangat besar, bahkan bisa mencapai lebih dari 50 GW dengan ketinggian 200 meter," katanya.
Dalam acara tersebut, Jisman mengajak seluruh pihak untuk bergotong-royong dalam mendukung pembangunan sektor kelistrikan yang andal, terjangkau, dan ramah lingkungan.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan ini akan memberikan peluang besar bagi pengembangan industri energi terbarukan dan peningkatan ekonomi Indonesia di masa depan.
[Redaktur: Amanda Zubehor]