WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan siap berangkat ke China apabila pemerintah memutuskan pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Jumat (13/2/2026).
Hingga kini, Purbaya mengaku belum menerima keputusan final terkait skema pembayaran utang proyek tersebut dan belum memberikan persetujuan tegas atas kemungkinan penggunaan APBN.
Baca Juga:
Empat Orang Tewas akibat Kecelakaan di Jalan Rusak Pasar Kemis
“Kita lihat kondisinya dari China seperti apa, apa persyaratan dari China,” ujar Purbaya kepada wartawan di Wisma Danantara.
Ia menegaskan kesiapan pribadi untuk terlibat langsung apabila tanggung jawab pembayaran utang berada di tangan pemerintah.
“Kalau saya yang bayar saya akan ke China, saya sendiri,” kata Purbaya.
Baca Juga:
Turis Kanada Ditemukan Tewas di Hotel Labuan Bajo, Diduga Bunuh Diri
Namun demikian, Purbaya menekankan bahwa hingga saat ini dirinya masih perlu memastikan perkembangan terbaru dari hasil pembahasan internal.
“Tapi saya belum tahu ya, saya akan double cek lagi,” ujarnya.
Purbaya menyampaikan bahwa dirinya ikut dilibatkan dalam pembahasan utang proyek kereta cepat tersebut, meski belum mengetahui apakah keputusan akhir sudah ditetapkan.
“Dilibatkan yang waktu itu ya, tapi kan selalu ada perkembangan-perkembangan,” kata Purbaya.
Ia menambahkan bahwa informasi final biasanya akan disampaikan secara resmi setelah keputusan diambil.
“Tapi saya enggak tahu final apa belum, nanti kan pasti saya dikasih tahu,” ujarnya.
Purbaya juga menegaskan bahwa dalam pertemuan terakhir Danantara belum ada pembahasan khusus mengenai skema pembayaran utang Whoosh.
“Tadi belum ada pembahasan,” ujar Purbaya.
Ia menyebut masih menunggu laporan resmi dari pimpinan Danantara sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Saya akan tunggu sampai dapat berita terakhir dari Pak Rosan,” katanya.
Meski demikian, Purbaya memastikan siap menjalankan keputusan pemerintah apabila arah kebijakan sudah ditetapkan.
“Tapi pada dasarnya begitu diputuskan presiden, saya akan eksekusi,” tegas Purbaya.
Ia menambahkan komitmennya untuk memastikan proses pembayaran berjalan tanpa kendala.
“Saya akan beresin supaya semuanya berlangsung smooth, tapi sampai sekarang saya belum mendapatkan informasi dari Pak Rosan, jadi saya akan tunggu dulu,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah sinyal dari Istana bahwa pembahasan skema pembayaran utang Whoosh telah memasuki tahap finalisasi.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara menyampaikan bahwa negosiasi teknis kini dipimpin langsung oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani.
Proyek kereta cepat Whoosh memiliki nilai investasi sekitar USD 7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya atau cost overrun sebesar USD 1,21 miliar.
Sekitar 75 persen pembiayaan proyek tersebut berasal dari pinjaman China Development Bank, sementara sisanya merupakan setoran modal konsorsium.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan pemerintah siap bertanggung jawab atas keberlanjutan proyek tersebut, termasuk kewajiban pembayaran cicilan utang sekitar Rp 1,2 triliun per tahun.
Menanggapi angka tersebut, Purbaya memastikan ruang fiskal negara masih tersedia dan tidak akan melanggar batas defisit anggaran.
“APBN kita kan cukup untuk itu, tanpa melewati 3 persen pasti ada,” kata Purbaya.
Ia juga membuka kemungkinan penghematan pada pos anggaran lain apabila diperlukan.
“Atau kita lakukan penghematan di tempat lain, untuk proyek-proyek atau program-program yang kita kurang efisien, kurang baik,” ujarnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]