WAHANANEWS.CO, Jakarta - Fakta mengejutkan soal kapal Pertamina di Selat Hormuz akhirnya dijawab, setelah publik dibuat heboh karena seluruh kru disebut bukan WNI.
Pihak Pertamina buka suara terkait viralnya kapal tanker Gamsunoro yang disebut tidak memiliki kru warga negara Indonesia, setelah seorang pelaut bernama Adrian Umar mengungkapnya di media sosial.
Baca Juga:
Optimasi Pengeboran Agresif, PHR Zona 4 Dongkrak Produksi dan Sabet 5 Penghargaan
Kabar tersebut langsung menyedot perhatian publik dan memicu banjir pertanyaan netizen di akun resmi Pertamina mengenai alasan tidak adanya tenaga kerja Indonesia di kapal milik nasional itu.
“Kok bisa kru kapal gamsunoro orang prindavan semua?” tanya netizen.
Menanggapi hal tersebut, Pertamina menjelaskan bahwa kapal Gamsunoro beroperasi dalam skema kerja sama internasional sehingga pengelolaan kru tidak sepenuhnya berada di tangan perusahaan.
Baca Juga:
Harga Diesel Melonjak, BP-AKR Naikkan Hingga Rp25.560 per Liter
“Kapal Gamsunoro merupakan armada PIS @pertaminainternationalshipping yang melayani pasar internasional, dalam operasional global kerja sama dengan pihak penyewa dan ship manager adalah praktik umum,” tulis akun Pertamina.
Penjelasan tersebut juga menegaskan bahwa kapal tersebut saat ini disewa oleh pihak ketiga yang memiliki kewenangan dalam menentukan kru sesuai regulasi internasional.
“MT Gamsunoro melayani pasar internasional di kawasan Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika, saat ini kapal tersebut disewa oleh pihak ketiga yang mempekerjakan ABK sesuai regulasi internasional dan standar operasional ketat,” lanjutnya.
Sebelumnya, peristiwa ini bermula saat Adrian Umar bertemu langsung dengan kapal Gamsunoro di perairan Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026) saat dirinya juga berada di wilayah tersebut.
Dalam video yang direkamnya, Adrian mencoba berkomunikasi dengan kru kapal untuk menanyakan kondisi mereka yang sama-sama terjebak akibat konflik Iran dan Amerika Serikat.
“Dari mana kalian, dari India atau Indonesia?” tanya Adrian.
Jawaban kru kapal justru membuatnya terkejut karena seluruh awak kapal ternyata berasal dari India.
“Kru India, pemiliknya orang Indonesia tapi krunya India,” kata kru kapal.
Adrian kembali memastikan kondisi tersebut karena tidak menyangka kapal milik Indonesia tidak memiliki satu pun kru WNI.
“Oh jadi semua krunya dari India ya? tidak ada orang Indonesia di sana?” tanya Adrian lagi.
Kru kapal pun menegaskan tidak ada satu pun WNI yang bekerja di kapal tersebut.
“Negatif, tidak ada orang Indonesia, semuanya India,” akui kru kapal.
Setelah percakapan tersebut, Adrian mengaku syok karena ekspektasinya bertemu sesama pelaut Indonesia tidak terwujud.
“Itu salah satu percakapan gue dengan kru kapal tanker Gamsunoro, syok, gue juga syok karena gue berharap itu ada orang Indonesia di sana,” ungkap Adrian.
Ia bahkan memilih tidak melanjutkan video tersebut karena khawatir menyinggung publik.
“Enggak ada gue edit, videonya enggak gue lanjutin karena takutnya kalian sakit hati karena nadanya lumayan mengejek,” kata Adrian.
Adrian mengaku kecewa sebagai pelaut Indonesia karena potensi SDM dalam negeri dinilai tidak dimanfaatkan secara maksimal.
“Sebagai putra bangsa pasti kecewa, tapi Indonesia itu memiliki 1,4 juta pelaut, kita ada di urutan ketiga di dunia untuk non perwira,” ujarnya.
Ia juga mengkritik kebijakan yang dinilai lebih menguntungkan tenaga kerja asing dibandingkan anak bangsa sendiri.
“Perusahaan BUMN milik negara tapi lu ngasih makan negara luar, masalahnya satupun enggak ada WNI,” imbuhnya.
Di sisi lain, kondisi di Selat Hormuz sendiri masih belum kondusif akibat konflik Iran dan Amerika Serikat yang membuat jalur pelayaran terganggu.
Diketahui, dua kapal milik Pertamina yakni Gamsunoro dan Pertamina Pride hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Persia akibat penutupan jalur oleh Iran.
Selat Hormuz sempat dibuka sementara pada Jumat (17/4/2026), namun kembali ditutup pada Sabtu (18/4/2026) sehingga kapal-kapal asing tidak dapat melintas.
Pemerintah bersama Pertamina saat ini terus melakukan negosiasi dengan otoritas terkait guna memastikan keselamatan pelayaran di wilayah tersebut.
“Strategi yang disiapkan meliputi penyusunan rute, identifikasi risiko, navigasi elektronik, serta penyiapan rencana kontijensi,” kata Plt Corporate Secretary PIS, Vega Pita.
Koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri untuk mendukung jalur diplomasi serta memenuhi prosedur perizinan internasional.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]