WAHANANEWS.CO, Jakarta - Media massa terbesar asal China, Xinhua, secara khusus menyoroti kondisi mata uang Indonesia setelah nilai tukar rupiah dilaporkan melemah hingga menembus level psikologis baru di atas Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis pagi.
Kejatuhan mata uang Garuda ini terjadi di tengah tingginya ketidakpastian global serta rilis data ekonomi negara adidaya tersebut yang jauh lebih kuat dari perkiraan pasar.
Baca Juga:
Rupiah Terus Menghadapi Tekanan Disorot Media Asing, Tulis Ini!
"Rupiah Indonesia melemah melewati angka psikologis 18.000 per dolar AS pada Kamis pagi di tengah ketidakpastian global dan data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan," muat laman itu dalam artikel berjudul "Indonesian rupiah weakens beyond 18,000 per dollar" dikutip Jumat (5/6/2026).
"Mata uang tersebut turun 0,27% menjadi 18.015 per dolar AS, sehingga penurunan tahun ini mencapai lebih dari 7%," muatnya.
"Para analis mengatakan permintaan terhadap dolar AS didukung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data ketenagakerjaan serta sektor jasa AS yang solid, sementara sentimen pasar domestik tetap lesu," jelas laman itu lagi.
Baca Juga:
Prabowo Hadiri Parade Militer di Beijing Jadi Bahasan Media Asing
Disebut juga komentar analis mata uang yang mengatakan rupiah dapat tetap berfluktuasi dalam kisaran 17.900 hingga 18.050 per dolar. Ditegaskan bagaimana Bank Indonesia (BI) mengatakan pada bahwa mereka akan terus mengambil langkah-langkah "konsisten dan terukur" untuk menstabilkan rupiah".
"Dengan mengoptimalkan instrumen kebijakannya dan menjaga likuiditas valuta asing yang memadai," muat laman itu.
Laman itu juga memuat artikel tentang bagaimana depresiasi ini berpengaruh ke pengusaha. Dimuat artikel berjudul "Rupiah weakness prompts Indonesian firms to cut costs, freeze hiring".