Menanggapi meningkatnya konsumsi BBM di Kota Medan sekitar 5 hingga 10 persen seiring dimulainya aktivitas sekolah dan perkantoran, Mufti menilai kebijakan Pertamina Patra Niaga menambah 10 unit mobil tangki, 30 unit spot charter, serta 34 Awak Mobil Tangki (AMT) merupakan langkah operasional yang tepat untuk mempercepat pemulihan distribusi.
"Penambahan armada distribusi dan personel dalam waktu singkat menunjukkan kemampuan respons yang baik terhadap lonjakan permintaan. Langkah ini dapat menjadi mitigasi jangka pendek yang efektif untuk mempercepat pemulihan distribusi. Namun, ke depan perlu dibangun sistem mitigasi yang lebih permanen melalui penguatan cadangan operasional, peningkatan kapasitas infrastruktur distribusi, serta sistem peringatan dini terhadap potensi gangguan pasokan," tegas Mufti.
Baca Juga:
BPKN RI Soroti Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa, Minta PLN Transparan dan Benahi Sistem
Selain penambahan armada dan personel, BPKN RI juga menilai berbagai upaya yang dilakukan Pertamina menunjukkan perkembangan positif.
Hal itu tercermin dari realisasi penyaluran BBM yang mencapai 104 persen dari target harian, pengoperasian 149 unit mobil tangki atau sekitar 115 persen dari kapasitas normal, serta optimalisasi operasional Fuel Terminal selama 24 jam penuh untuk memastikan distribusi tetap berjalan.
"Langkah tersebut memberikan keyakinan bahwa distribusi dapat kembali stabil dalam jangka pendek. Namun stabilitas pasokan ke depan tetap harus dijaga melalui monitoring yang berkelanjutan, evaluasi berkala, serta penguatan infrastruktur logistik agar sistem distribusi lebih adaptif terhadap peningkatan permintaan maupun kondisi darurat," jelasnya.
Baca Juga:
Harga Pertamax Melonjak, BPKN RI Ingatkan Risiko Tekanan Daya Beli dan Inflasi
Mufti juga menekankan bahwa keberhasilan menjaga ketahanan energi tidak hanya bergantung pada satu pihak.
Menurutnya, kolaborasi yang erat antara Pertamina Patra Niaga, pemerintah daerah, aparat keamanan, regulator, serta seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor utama dalam memastikan distribusi BBM tetap lancar di tengah berbagai tantangan.
"Koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan penanganan situasi seperti ini. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memantau kondisi lapangan, aparat keamanan menjaga kelancaran distribusi, sementara Pertamina memastikan operasional berjalan optimal. Sinergi inilah yang akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat," tambahnya.